Kamis, 30 Desember 2010 16:00 WIB News Share :

Normalisasi sungai di Merapi, Kemen PU siapkan Rp 70 M

Magelang–Kementerian Pekerjaan Umum (Kemen PU) menyediakan dana senilai Rp 70 miliar untuk normalisasi terhadap tujuh dari 15 sungai di lereng Merapi yang rusak akibat banjir lahar dingin. Dana ini diambil dari dana tanggap darurat.

Rincian dana itu adalah Rp 50 miliar dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), dan sebesar Rp 20 miliar dana tanggap darurat bencana. Demikian disampaikan Wakil Menteri PU Hermanto Dardak saat meninjau normalisasi di Kali Putih, Kecamatan Salam, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, Kamis (30/12).

“Total untuk normalisasi beberapa sungai yang berhulu Merapi saat ini, menggunakan dana Rp 70 miliar. Dana itu berasal dari anggaran rutin Kemen PU Rp 50 miliar dan dana tanggap darurat dari BNPB Rp 20 miliar, kata Hermanto Dardak.

Hermanto menyatakan normalisasi beberapa sungai yang berhulu di Merapi dilakukan antara lain di Kali Batang, Kali Putih, Kali Krasak dan Kali Senowo di Kabupaten Magelang. Ada juga beberapa sungai di Kabupaten Sleman, diantaranya Kali Kuning, Kali Boyong dan Kali Opak di Kabupaten Bantul, Yogyakarta.

“Selain sungai, kita juga menormalisasi sejumlah check dam penampungan yang saat ini sudah dipenuhi material Merapi,” imbuh Hermanto didampingi Kepala Bidang Pemanfaatan Jaringan Sumber Air Balai Besar Wilayah Sungai Serayu-Opak (BBWSSO), Imam Mardjianto.

Hermanto menegaskan normalisasi penting dilakukan untuk mengembalikan alur sungai yang saat ini banyak yang menyimpang akibat dipenuhi material Merapi. Kegiatan ini sangat penting, agar alur sungai tidak membahayakan perkampungan warga terutama di radius 300 meter dari bibir sungai.

“Di sisi lain, juga penting untuk mengamankan pilar-pilar jembatan dari hantaman batu dan material merapi lainnya, serta pohon yang tumbang saat terjadi banjir lahar,” tegas Hermanto.

Sementara,  ada tujuh rumah pinggir Kali Putih yang harus dipindahkan karena lokasinya berbahaya dan tidak layak lagi ditempati. Ketujuh rumah tersebut terdiri dari tiga rumah di Desa Jumoyo dan empat rumah di Desa Sirahan, Kecamatan Salam.

Camat Salam, Kunta Hendrata mengatakan, pihaknya akan meminta bantuan Pemprov Jawa Tengah untuk meminta alokasi pembangunan hunian sementara (Huntara) yang tidak diminati korban letusan Merapi, dialihkan untuk korban banjir lahar dingin. 600 Meter persegi lahan di Desa Jumoyo sudah disiapkan jika huntara ini disetujui.

“Kalau Huntara bisa dialihkan untuk korban lahar dingin, warga di sini pasti mau. Karena itu, kami akan upayakan, agar korban lahar dingin juga bisa menggunakannya,” kata Kunta.

dtc/tiw

lowongan pekerjaan
4 orang Penerjemah fasih berbahasa mandarin & 2 orang Sopir, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Eropa pun Galau Ihwal Media Sosial

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (16/10/2017). Esai ini karya Ahmad Djauhar, Ketua Dewan Redaksi Harian Solopos dan Wakil Ketua Dewan Pers. Alamat e-mail penulis adalah djauhar@bisnis.com. Solopos.com, SOLO — Kegalauan ihwal media sosial kini melanda hampir seluruh negara di…