Rabu, 29 Desember 2010 21:20 WIB Sragen Share :

Nyantai di waduk Ketro, sepeda motor pelajar dirampas

Nyantai di waduk Ketro, sepeda motor pelajar dirampas

Sragen (Espos)–Nasib buruk dialami pelajar berusia 13 tahun, Rizda Darmawan. Saat tengah bersantai menikmati sejuknya suasana di sekitar Waduk Ketro, Rizda justru menjadi korban aksi perampasan oleh dua orang tak dikenal. Sepeda motor Honda Supra 125 warna hitam dengan nomor polisi (Nopol) AD 2823 ZE yang dikendarai Rizda, dibawa kabur para pelaku.

Informasi yang dihimpun Espos, dari jajaran kepolisian Polres Sragen, Rabu (29/12), peristiwa yang terjadi, Sabtu (25/12) tersebut berawal saat korban tengah bersantai di lapangan Waduk Ketro, Tanon. Saat beranjak pulang, dua orang tak dikenal menghadangnya, dengan maksud ingin menumpang motor Rizda sampai di perempatan Gabugan, ke arah timur Waduk Ketro.

Tanpa curiga, Rizda pun mempersilakan kedua pelaku membonceng, sehingga ketiganya berboncengan tiga orang, dengan korban di tengah. Selama berboncengan ketiganya sempat berhenti untuk mengisi bensin. Namun, saat sampai di jalan kampung Dukuh Karangsigit, Desa Sambiduwur, Tanon, tiba-tiba dua pelaku memaksa Rizda turun dari sepeda motornya. Pelajar yang ketakutan tersebut hanya bisa menurut. Sepeda motornya dilarikan pelaku menuju arah barat ke Kecamatan Gemolong.

Sepeda motor itu diketahui milik kerabat korban, atas nama Ida Rukmawati, warga RT 10 Dukuh Metep, Desa Tenggak, Sidoharjo. Kepala Sub Bagian (Kasubag) Humas Polres Sragen, AKP Mulyani, mewakili Kapolres, AKBP IB Putra Narendra, kepada Espos, Rabu, menjelaskan aksi perampasan sepeda motor tersebut kini ditangani jajaran kepolisian. “Kasus sedang kami tangani. Polisi sedang mengupayakan untuk memburu pelaku,” kata Mulyani.

tsa

lowongan pekerjaan
Gramedia Surakarta, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Mengenang (Pendidikan) Guru

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat (24/11/2017). Esai ini karya Bandung Mawardi, kuncen Bilik Literasi. Alamat e-mail penulis adalah bandungmawardi@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Pada akhir abad XIX orang-orang Jawa mulai memiliki cita-cita baru. Sekian orang ingin menjadi guru seperti tuan kulit…