Rabu, 29 Desember 2010 22:45 WIB Solo Share :

Kaum difabel
libatkan kami di Musrenbang

Solo (Espos)–Warga penyandang cacat di Kota Solo belum banyak berkiprah dalam pembangunan kota. Mereka masih sering mendapat diskriminasi dan kepentingannya belum terakomodasai dengan baik.

Hal ini disampaikan Sekjen Federasi Kesejahteraan Penyandang Cacat Tubuh Indonesia (FPCTI) Jateng, Hardiyanto Tanjung dalam diskusi bertema Peran Serta Penyandang Cacat dalam Pembangunan Kota Solo di Hotel Indah Palace Solo, Rabu (29/12).

Hardiyanto mengatakan ketidakterlibatan difabel dapat dlihat dalam setiap rumusan rancangan musyawarah perencanaan dan pembangunan (Musrenbang). Dalam setiap Musrenbang mulai dari kelurahan hingga kota, warga difabel di Kota Solo belum dilibatkan secara langsung. Sehingga peran dan aspirasi warga difabel kurang tertampung. “Bagaimana mungkin Pemkot bilang memperhatikan difabel, diajak berunding saja kami tidak, kebutuhan kami apa, pasti tidak tahu,”
katanya.

Bentuk diskriminasi lainnya, lanjut Haryanto, yakni sejumlah bangunan publik dan juga swasta di Kota Solo yang masih sedikit memenuhi aksesibilitas difabel. “Kira-kira 30% yang belum mudah diakses kami,” katanya. Padahal, lanjutnya, dalam UU 4/1997 tentang Aksesibilitas dinyatakan setiap pembangunan gedung harus mudah diakses oleh difabel.

Lebih jauh ia memaparkan, satu kondisi nyata yang merugikan warga difabel yakni ruang Bidang Sosial pada gedung Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Dinsosnakertrans) berada di lantai dua. “Dinsos khususnya bidang sosial sangat berhubungan erat dengan kami, kalau harus kelantai dua kami kesulitan,” katanya.

Ia berharap pada gedung tersebut dibangun lift untuk memudahkan akses para difabel. Salah satu petugas Bidang Sosial Dinsosnakertrans, Yuli mengaku telah mengusulkan pembangunan itu. “Sudah difikirkan dan diusulkan juga, tapi keputusannya apa belum tahu,” katanya.

aha

lowongan pekrjaan
Akuntansi, Administrasi,Marketing,Tehnisi ,Gudang/Driver, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Mencari Alamat Bahasa Indonesia

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu (06/01/2018). Esai ini karya Na’imatur Rofiqoh, ”pemukul” huruf dan juru gambar yang tinggal di Solo. Alamat e-mail penulis adalah naimaturr@gmail.com. Solopos.com, SOLO — Bahasa Indonesia tidak lagi beralamat di Indonesia. Indonesia malah jadi tempat…