Rabu, 29 Desember 2010 01:03 WIB Boyolali Share :

10 Desa di Ngemplak endemis DBD

Boyolali  (Espos)--Sebanyak 10 dari 12 desa di Kecamatan Ngemplak dinyatakan sebagai wilayah endemis Demam Berdarah Dengue (DBD).

Desa-desa tersebut yakni Desa Sobokerto, Desa Ngesrep, Desa Gagaksipat, Desa Sawahan, Desa Donohudan, Desa Manggung, Desa Kismoyoso, Desa Pandeyan, Desa Giriroto dan Desa Sindon. Dari data jumlah penderita DBD di Ngemplak selama tahun 2010, sekitar 50 kasus berasal dari kesepuluh desa tersebut. Hanya Desa Ngarjorejo serta Desa Dibal yang bebas endemis DBD.

Kepala UPT Puskesmas Ngemplak, dr Achmad Muzayin, Rabu (29/12) kepada Espos mengatakan meski sejak dua tahun terakhir terjadi penurunan kasus DBD di wilayah kerjanya, jumlah penderita DBD di Ngemplak tetap yang paling tinggi di Kabupaten Boyolali. Tahun 2009, 48 orang didiagnosa menderita DBD. Jumlah ini turun dari kasus tahun sebelumnya sebanyak lebih dari 70 penderita. Sementara data terakhir tahun 2010, 50 orang ditemukan positif menderita DBD.

Menurut Zayin, begitu ia akrab disapa, sejumlah karakteristik warga Kecamatan Ngemplak turut menjadi faktor banyaknya kasus DBD. “Pertama, mobilitas warga Ngemplak sangat tinggi. Wilayah ini dekat dengan Kota Solo dan sebagian penduduknya bekerja di sektor industri dan perdagangan. Hal ini sangat berpengaruh terhadap kepedulian warga terhadap kebersihan serta kesehatan diri dan lingkungan,” paparnya.

Karakteristik kedua, lanjut Zayin, adalah kebiasaan hidup warga setempat. Sejumlah mata pencaharian warga dinilai melahirkan kebiasaan yang bisa mendatangkan bibit penyakit DBD ke lingkungan mereka. “Penemuan paling baru oleh petugas sanitarian kami, misalnya, di Ngesrep warga cenderung ‘membibitkan’ jentik nyamuk sebelum menyebar benih lele di kolam ikannya.”

Pembibitan jentik nyamuk, dimaksudkan warga agar ikan lele peliharaan mereka nanti memiliki cukup bahan makanan agar cepat besar. Padahal,  di wilayah yang memang menjadi sentra pembibitan ikan lele tersebut, warga sering membiarkan air tergenang di kolam ikan mereka selama beberapa pekan, “Bayangkan berapa ratus nyamuk dewasa yang sudah lahir dari penampungan air bersih tersebut,” sambung petugas sanitarian UPT Puskesmas Ngemplak, Sis Nugroho.

Meski selama 2010 belum ada kasus meninggal dunia karena DBD, Zayin mengungkapkan pihaknya bakal terus mengupayakan pencegahan wabah penyakit ini, lantaran musim hujan akan terus berlangsung hingga awal tahun depan. “Penyuluhan pemberantasan sarang nyamuk (PSN) kepada kader-kader di posyandu dan masing-masing desa terus dilakukan. Pemberian bubuk abathe serta langkah pengasapan siap dilakukan bila di suatu daerah ditemukan peningkatan kasus DBD,” pungkasnya.

m92

lowongan pekerjaan
PT SAKA JAYA ENGGAL CIPTA, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
”Akad” Populer karena Berbeda

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu (14/10/2017). Esai ini karya Romensy Augustino, mahasiswa Jurusan Etnomusikologi Fakultas Seni Pertunjukan Institut Seni Indonesia (ISI) Solo. Alamat e-mail penulis adalah romensyetno@yahoo.com. Solopos.com, SOLO – -Youtube adalah salah satu media sosial yang menjadi rujukan…