Senin, 27 Desember 2010 18:22 WIB Kaleidoskop Share :

Perseteruan berebut rekomendasi jelang Pilkada 2011 (Sragen-bagian II)

Setelah Bambang Samekto menduduki kursi Ketua Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), polemik di internal partai berlambang banteng moncong putih itu tak pernah usai hingga akhir tahun.

Sebanyak 13 pimpinan anak cabang (PAC) yang tidak terima dengan model kaderisasi dan reorganisasi DPC membuat petisi 900 dan disampaikan ke Dewan Pimpinan Daerah (DPD) dan Dewan Pimpinan Pusat (DPP). Bahkan seorang kader PDIP berani melaporkan intitusi partai itu ke polisi dengan indikasi pemalsuan stempel.

Persoalan internal organisasi belum usai, DPC PDIP disibukan dengan penjaringan calon bupati (Cabup) dan calon wakil bupati (Cawabup). Sedikitnya ada 16 calon yang mengambil formulir, dari separuh di antaranya yang mengembalikan formulir.

Dalam perebutan rekomendasi DPP, Bambang Samekto kembali berhadapan dengan Kusdinar Untung Yuni Sukowati yang pernah menjadi rival politik dalam perebutan kursi Ketua DPC.

Di tengah konflik internal PDIP, muncul gagasan baru dengan bersatunya tujuh partai besar melalui wadah koalisi baru yang dikenal dengan Koalisi Besar Rakyat Sragen (KBRS).

Berbagai kalangan memprediksi KBRS tidak akan berjalan lama, karena ada konflik kepentingan di dalamnya. Prediksi tersebut terbukti dengan banyaknya penggagas KBRS justru <I>nyempal<I> dan mendeklarasikan diri sebagai Cabup.

Ketua DPD II Partai Golkar Sragen Agus Fatchurrahman menyatakan sebagai Cabup dengan menggandeng Daryanto sebagai Cawabup. Ketua DPC Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Mukafi Fadli sebagai Cawabup PKB yang didukung warga Nahdliyin.

Ketua DPC Partai Demokrat Joko Saptono juga memasang baliho sosialisasi dirinya dengan slogan OTW (on the way) untuk perubahan. Berbeda dengan Partai Keadilan Sejahtera (PKS) yang masih diam-diam saja menunggu peluang last minute.

Perang baliho mulai digencarkan dari sejumlah Cabup-Cawabup yang muncul. Mulai dari yang memiliki partai sampai yang cukup mengandalkan percaya diri dan modal finansial. Muncul sejumlah nama, seperti Darmawan Minto Basuki (Sekda Sragen), Suparlan Ismanto, Wiyono, Ali Badarudin, Endarto, Bambang Haryanto dan sejumlah calon lainnya.

Namun kembali pada kunci kendaraan politik masing-masing Cabup-Cawabup berupa rekomendasi akan jatuh ke tangan siapa, jawabannya masih abu-abu. Perebutan rekomendasi menjadi petarungan tersendiri bagi Cabup-Cawabup.

Bahkan pasangan ADA yang merupakan calon tunggal koalisi kerakyatan juga masih disibukan dengan rekomendasi yang belum jelas. Gara-gara rekomendasi itu, pasangan Agus Fatchurrahman-Daryanto (ADA) yang diketahui masyarakat cukup memiliki nyali dan cukup kuat untuk tampil perdana sebagai Cabup-Cawabup diisukan pecah. Padahal Partai Amanat Nasional (PAN) dan Partai Peduli Rakyat Nasional (PPRN) menyatakan memberi rekomendasi kepada ADA.

Seiring dengan pergulatan politik antar-Cabup-Cawabup, muncul dua pasang calon dari jalur independen yang masih diverifikasi Komisi Pemilihan Umum (KPU) Sragen. Dua pasangan itu terdiri atas Pasangan Danang Wijaya-Sumiyarto dan Sularno-Kushardjono. Semula ada empat pasangan, namun KPU memutuskan hanya dua pasang calon yang dinyatakan lolos verifikasi awal.

(Tri Rahayu-Tika Sekar Arum–Bersambung)

lowongan pekerjaan
PT. INDUKTURINDO UTAMA, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Daya Beli Menurun

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Selasa (17/10/2017). Esai ini karya Ginanjar Rahmawan, mahasiswa Program Doktor Bidang Pemberdayaan Masyarakat dan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah Universitas Sebelas Maret. Alamat e-mail penulis adalah Rahmawan@stiesurakarta.ac.id. Solopos.com, SOLO–Belakangan ini beberapa kawan saya yang…