Sabtu, 25 Desember 2010 20:41 WIB Sport Share :

Suporter
Mekanisme penjualan tiket laga Indonesia vs Malaysia terlalu bodoh

Jakarta — Bagi para suporter yang setia menyaksikan laga Timnas Indonesia di Piala AFF, mekanisme penjualan tiket relatif mengecewakan. Carut marut penjualan tiket ini disebut seorang suporter terlalu bodoh.

Di antara puluhan ribu suporter yang setia menyaksikan laga Indonesia sejak penyisihan grup hingga semifinal, terdapatlah Ronni Nugrihyan. Bersama rekan-rekan sekantornya, pemuda 22 tahun ini menyaksikan laga ‘Skuad Garuda’ hingga leg I semifinal menghadapi Filipina.

Keanehan mulai tampak pada laga semifinal kedua. Seiring dengan membludaknya penonton dan kian banyaknya suporter yang ingin menyaksikan pertandingan, mekanisme penjualan tiket di matanya pun kian carut-marut.

Ia mengaku mendapatkan tiket untuk leg kedua tersebut dari jatah sebuah kelompok suporter–yang memang mendapatkan bagian khusus dari PSSI.

“Untuk semifinal 1 okelah pas lawan Filipina di tribun masih sepi. Cuma yang pas second leg ini, jatah untuk (menyebut salah satu kelompok suporter, red) tumben habis. Kata teman, itu memang habis,” ungkapnya kepada detikSport.

“Dan pada akhirnya saya dicarikan tiket. Dan dapat kategori 2 di belakang gawang yang harga normalnya 100 ribu. Nah kata temen saya itu, itu juga jatah (menyebut sebuah kelompok suporter, red) juga yang dapat ganti dari PSSI.”

“Saya bayarin. Harganya jadi 125 ribu–okelah. Nah, pas saya terima fisik tiketnya… Ternyata di situ tercantum partai Indonesia lawan Malaysia tanggal 4 Desember!”

“Yang cuma dibedain ada cap stempelnya. Aneh nggak? Di tengah rasa aneh itu saya coba ubek-ubekan masuk stadion dan kali ini tiket nggak pake di-scan lagi. Jadi, sudah kayak jebol gitu. Semrawut.”

Singkat kata, Ronni bersama rekan-rekannya pun batal menyaksikan laga leg kedua tersebut. Sebagai seorang suporter, ia pun mengaku kecewa karena buruknya manajemen tiket ini.

“Jujur aja sakit hati. Udah beli tiket nggak bisa nonton juga. Saya nggak ngerti mekanismenya gimana. Terlalu bodoh aja pengaturannya.”

“Masa iya jual tiket aja nggak becus. Seperti tidak siap begitu,” tukasnya.

Hari ini, Sabtu (25/12/2010), penjualan tiket juga kembali mendapatkan protes dari suporter. Sebagian pendukung merasa aneh dengan ludesnya tiket online dalam kurun waktu kurang dari satu jam.

Sementara hari Kamis lalu, ratusan orang menyerbu kantor PSSI karena kecewa lantaran tiket sebanyak 4.500 buah sudah habis terjual. Padahal, baru sekitar 500 nomor antrean yang mendapatkan pelayanan. detikcom

lowongan pekerjaan
STAFF SURVEY,MARKETING,SPG,SPB, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Ketika Uang Tunai Terpinggirkan

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (16/10/2017). Esai ini karya Riwi Sumantyo, dosen di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sebelas Maret. Alamat e-mail penulis adalah riwi_s@yahoo.com. Solopos.com, SOLO — Perkembangan teknologi digital yang super cepat mengubah banyak hal, baik di…