Kamis, 23 Desember 2010 22:07 WIB Klaten Share :

Anak-anak Merapi pun kecanduan mi instan mentah...

Di bawah atap di sebuah teras, anak-anak itu melukis pada selembar kertas. Yang laki-laki melukis gunung dengan garis merah meleleh ke bawah. Yang perempuan melukis bunga dengan aneka warna warni. Di antara bunga-bunga dan gunung-gunung itu ada yang melukis deretan rumah yang telah hancur. “Ini rumah saya setelah terkena letusan Merapi,” kata Arif Fauziah menunjukkan hasil lukisannya yang masih belepotan.

Arif melukis dengan daya imajinasinya. Betapapun pengungsian adalah tempat darurat, namun anak yang masih duduk di bangu kelas IV SD itu menikmati betul tinggal di Depo Pendidikan Latihan Tempur (Dodiklatpur) Klaten itu. Bersama puluhan anak-anak pengungsi lainnya, Arif selalu menemukan dunia baru bersama para relawan yang mendampinginya. “Ada yang saking manjanya, mereka selalu minta gendong, minta mainan aneka HP terbaru, dan kemana-mana ikut terus,” kata Manager Divisi Rural Solidaritas Perempuan untuk Kemanusiaan dan Hak Asasi Manusia (Spekham) Solo, Maria Sucianingsih yang mendampingi anak-anak Merapi di pengungsian Dodiklatpur, Kamis (23/12).

Di sinilah, sederet persoalan terkadang susah dielakkan. Banyaknya relawan yang datang silih berganti tak jarang menjadi dilema tersendiri. Catatan Spekham menunjukkan betapa anak-anak pengungsian mulai memiliki ketergantungan dengan para relawan. “Banyak anak-anak yang menangis dan minta bertemu dengan kakak pendampingnya. Padahal, relawan sudah pulang,” katanya.

Hal itu mungkin masih tak seberapa. Sebab, tak jarang perilaku relawan yang kurang pas pada tempatnya banyak ditiru anak-anak pengungsian, salah satunya ialah merokok. “Relawan yang merokok menjadi problem. Anak-anak kan masih kecil, jadi meniru,” paparnya.

Ini memang bukan semata tanggungjawab relawan. Orangtua dari anak-anak pengungsian, diakui Suci memang tak sedikit yang kurang memperhatikan anak-anaknya. Bahkan sekadar bertanya apa saja yang dilakukan di pengungsian, tak jarang para orangtua yang tak sempat. “Banyak juga anak-anak pengungsian yang suka doyan makan mie instant mentah. Ini kan berbahaya, yang masakan matang saja mengandung zat kimia, apalagi yang mentah,” tuturnya.

asa

lowongan pekerjaan
PD.BPR BANK BOYOLALI, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
”Akad” Populer karena Berbeda

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu (14/10/2017). Esai ini karya Romensy Augustino, mahasiswa Jurusan Etnomusikologi Fakultas Seni Pertunjukan Institut Seni Indonesia (ISI) Solo. Alamat e-mail penulis adalah romensyetno@yahoo.com. Solopos.com, SOLO – -Youtube adalah salah satu media sosial yang menjadi rujukan…