Selasa, 21 Desember 2010 21:30 WIB Sragen Share :

Tersambar petir, tukang becak di Plupuh meninggal dunia

Sragen (Espos)–Gara-gara nekat memotong kayu bakar di ruang terbuka di belakang rumahnya saat gerimis, seorang tukang becak, Yatimin, 45, tersambar petir, Senin (20/12) pukul 16.30 WIB.

Warga RT 14, Dukuh Tanon, Desa Jabung, Kecamatan Plupuh tersebut ditemukan meregang nyawa di lokasi setempat, sesaat setelah terdengar suara petir. Saksi, Winadi, 57, seperti dikutip dalam laporan pemerintah Kecamatan Plupuh, tertanggal Senin, mengatakan saat kejadian korban tengah membelah kayu bakar di belakang rumahnya, dalam keadaan gerimis.

Winadi mengaku mendengar suara petir keras dan bersahutan di belakang rumah korban. Saat dia mendatangi lokasi, korban sudah dalam keadaan meninggal dunia. Tubuh korban ditemukan dalam kondisi kulit kepala lecet, rambut terbakar, dan bagian dada serta paha kanan dan kiri lecet-lecet. Jasad pria yang bekerja sebagai tukang becak di Solo tersebut lantas diperiksa dokter Puskesmas II Plupuh, jajaran Muspika dan tim forensik dari Polres Sragen.

Camat Plupuh, Sriyono, saat ditemui Espos, di kantor kecamatan setempat, Selasa (21/12), menerangkan berdasarkan hasil pemeriksaan dokter dan jajaran kepolisian, dalam tubuh korban tidak ditemukan unsur kriminalitas. Korban dipastikan meninggal karena tersambar petir saat tengah membelah kayu bakar di belakang rumah. “Kondisi korban memang menunjukkan telah tersambar petir. Tidak ada unsur kriminalitas,” jelas Sriyono.

Atas kejadian yang menimpa Yatimin tersebut Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sragen telah memberikan bantuan berupa uang tunai, yang diserahkan kepada pihak keluarga, Senin sore. Sedangkan, jasad korban langsung dimakamkan keluarga pada Selasa pagi.

tsa

lowongan pekerjaan
ADMINISTRASI & KEUANGAN BISNIS, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Mengenang (Pendidikan) Guru

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat (24/11/2017). Esai ini karya Bandung Mawardi, kuncen Bilik Literasi. Alamat e-mail penulis adalah bandungmawardi@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Pada akhir abad XIX orang-orang Jawa mulai memiliki cita-cita baru. Sekian orang ingin menjadi guru seperti tuan kulit…