Selasa, 21 Desember 2010 19:47 WIB Sport Share :

Misteri “dinginnya” Alfred Riedl…

Bermuka dingin dan jarang tersenyum. Begitulah penilaian banyak orang terhadap pelatih Timnas PSSI Alfred Riedl. Misteri “dinginnya” raut muka Riedl ini memang menjadi pembicaraan banyak orang.

Di <I>detik forum<I>, salah satu sub rubrikasi di portal <I>Detik.com<I> misalnya, ratusan fans PSSI melontarkan beragam komentar tentang dinginnya sang pelatih itu. “Alfred Riedl kok cemberut saja?” tulis seseorang dengan akun Ikan Bandeng di forum diskusi itu.

” Tidak seperti Bryan pelatih Thailand… atau pelatih tim-tim kelas dunia seperti Joachim, Juan, Fabio, Diego apalagi Juergen yang tiap kali Jerman mencentak gol sampai jingkrak-jingkrak kegirangan setiap kali pasukan Jerman mencentak gol dan terpancar senyum kegembiraan seusai pertandingan jika timnya menang. Bahkan Diego sampai meggendong-gendong Lionel Messi. Sementara Alfred jarang terlihat seperti itu. Bahkan ketika Indonesia mencetak gol ke gawang Thailand dialah satu-satunya orang yang duduk di bench yang tidak menampakan ekspresi gembira. Ya duduk saja dengan wajah muram di bench itu. Ada apa denganmu Alfred?” tulis Ikan Bandeng.

Berbagai analisis dan beragam dugaan pun dilontarkan para peserta diskusi. Ada yang dengan gaya bercanda… ”Ah mungkin sedih mikirin PSSI…” ”Itu justru salah satu pelatih yang tegas dan berkarakter. Dia tidak akan pernah puas pada pekerjaan anak buahnya dan menginginkan yg terbaik dari yg terbaik,” tulis Putra_Kali_Bekasi.

Akan tetapi Roza_Rozano, salah seorang anggota forum diskusi lebih serius menanggapi masalah ini. Dia melakukan riset dengan membaca data dan fakta dari berbagai sumber di Internet. Hasilnya, Roza_Rozano berkesimpulan bahwa karakter dingin Alfred Riedl itu dimaksudkan agar kemenangan yang diperoleh tim asuhannya tidak menyinggung pihak lawan. Kok bisa?

”Ternyata sebenarnya Beliau mempunyai rasa kurang nyaman kalau mesti ‘mempermalukan’ tim tamu, seperti Laos atau Malaysia. Di beberapa komentar wawancara pers Beliau bilang, hanya menduga menang 3-1 atas Malaysia, 3-0 atas Laos dan merasa hasil seri adalah adil saat melawan Thailand makanya Beliau diem aja pas ada gol dari Indonesia,” tulis Roza.

Lebih lanjut dia menuturkan bahwa dari hasil searching-nya di sejumlah situs menunjukkan bahwa Riedl tidak mau meluapkan rasa gembiranya karena khawatir bisa menyinggung suporter atau tim lawan. Sebab dia ternyata memiliki hutang budi yang sangat besar kepada suporter di Vietnam yang menyumbangkan ginjalnya kepada Riedl.

”Pas Beliau melatih Vietnam tahun 2007, Riedl terkena penyakit ginjal, sehingga dokter menyarankan transplantasi ginjal. Nah saat itu hampir 80 fans sepak bola Vietnam menawarkan diri jadi donor ginjal. Satu orang dipilih
dan transplantasi itu sukses sehingga Beliau jadi sehat seperti sekarang ini,” papar Roza.

Membawa kejayaan

Begitulah. Sekalipun bermuka jutek, Riedl memang dicintai fansnya. Riedl adalah salah satu pelatih Vietnam yang berhasil membawa negeri itu ke era kejayaan sepakbola Asia Tenggara. Riedl begitu dicintai rakyat Vietnam berkat prestasi kerjanya selama enam tahun.

Cerita mengharukan terjadi ketika Riedl mengumumkan akan melakukan operasi cangkok ginjal sekitar tahun 2006. Begitu rencana operasi cangkok ginjal diumumkan, puluhan penggemar dari berbagai kalangan berbondong-bondong menawarkan diri sebagai donor gijal.

Saat melatih Vietnam, Riedl memang sudah punya masalah ginjal. Pelatih asal Austria tersebut harus melakukan dialisis atau cuci darah hingga tiga kali seminggu karena ginjalnya sudah tidak berfungsi.

Kelainan ginjal tersebut sudah dialami Riedl selama 12 tahun dan makin memburuk justru saat ia dibutuhkan oleh Timnas Vietnam. Beruntung ia punya banyak penggemar setia yang tak ingin tim asuhannya gagal di Piala Asia 2007. Seperti dikutip Dailymail, donor ginjalnya tak lain adalah seorang supporter fanatik di negeri Paman Ho tersebut.

Operasi pencangkokan lalu dilakukan di Wina Austria. Ia hampir kehilangan nyawa jika tidak segera mendapatkan donor ginjal. Para calon donor itu ada yang berprofesi sebagai pegawai bank, sopir truk, pedagang dan bahkan ada yang datang dari kalangan biksu atau biarawan. Semua hanya punya satu keinginan, Riedl cepat sembuh dan kembali menangani Timnas kesayangannya.

“Saya rela mendonorkan ginjal agar saya dan Riedl sama-sama mendapatkan karma yang baik,” ungkap Dong Phap, biksu berusia 32 tahun dari Provinsi Phu Tho yang ketika itu juga berminat menjadi donor.

Namun rupanya tidak mudah untuk mendapatkan ginjal yang sesuai dengan kebutuhan Riedl. Kendala yang paling banyak menggagalkan niat baik para calon donor adalah ketidaksesuaian ukuran ginjal dan golongan darah dengan yang dibutuhkan oleh Riedl.

Operasi pencangkokan baru bisa dilakukan pada Maret 2007, hanya beberapa bulan sebelum turnamen Piala Asia digelar pada Juli 2007. Identitas donor dirahasiakan, namun situs AFC menyebut Riedl mendapatkan ginjal tersebut dari seorang penggemar di Vietnam.

Sang pelatih Riedl pun akhirnya bisa sehat kembali, tapi sayang dia harus meninggalkan Vietnam karena dianggap gagal membawa skuad Under 23-nya yang kalah adu penalti dari Myanmar di babak semifinal SEA Games XXIV tahun 2007. Riedl sempat menjadi pelatih Laos dan kini ia menangani timnas Indonesia.  Detikcom/dari berbagai sumber/mul

Nama lengkap:  Alfred Riedl

Tanggal lahir: 2 November 1949 (umur 61)

Tempat lahir:    Wina, Austria

Tinggi badan:  1.84 m (6 ftin)

Posisi saat menjadi pemain: striker

Karir kepelatihan 1990-1991
1990-1991 – Austria

1993-1994 – Olympique Khouribga
1994-1995 –  Al-Zamalek
1997-1998 –  Liechtenstein
1998-2001 –  Vietnam
2001-2003 –  Al Salmiya
2003-2004 –  Vietnam
2004-2005 –  Palestina
2005-2007 –  Xi M?ng H?i Phòng FC
2008-2009 –  Vietnam
2009-2010 –  Laos
2010 – …. –  Indonesia

lowongan pekerjaan
Kepala Produksi, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Wacana Lama Densus Antikorupsi

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat (20/10/2017. Esai ini karya Hafid Zakariya, Ketua Program Studi Ilmu Hukum di Universita Islam Batik (Uniba) Solo. Alamat e-mail penulis adalah hafidzakariya@gmail.com. Solopos.com, SOLO — Rencana pembentukan Detasemen Khusus Antikorupsi yang digulirkan kembali oleh…