Senin, 20 Desember 2010 21:57 WIB Pendidikan Share :

"Bangun paguyuban-paguyuban profesional"

Jakarta (Espos)--Kementerian Pendidikan Nasional (Kemdiknas) mendorong untuk mengembangkan perkumpulan profesional di sekolah.

Wakil Menteri Pendidikan Nasional Fasli Jalal mengatakan, di tingkat satuan pendidikan telah terbentuk tim pengembang kurikulum tingkat sekolah. Keberadaan mereka, kata dia, perlu difasilitasi dengan materi-materi dan bahan-bahan pendukung.

“Mari kita bangun paguyuban-paguyuban profesional. Ini adalah kumpulan profesional yang berbeda dengan kepala sekolah,” katanya pada peluncuran dan bedah buku “Secercah Harapan: Praktik-Praktik terbaik di Sekolah” di Kantor Kemdiknas, Jakarta, Senin (20/12).

Buku yang diluncurkan merupakan rekam jejak perjalanan pelatihan guru yang diselenggarakan oleh Tanoto Foundation bekerjasama dengan Anita Lie dan tim sejak tahun 2006.

Fasli mengatakan, buku praktik terbaik di sekolah dapat dijadikan sebagai bahan untuk mendukung kegiatan kelompok profesional ini. Buku tersebut, kata dia, dapat dimanfaatkan oleh Kelompok Kerja Guru (KKG) dan Musyarawah Guru Mata Pelajaran (MGMP). Selain itu,kata dia, dapat ditambah dengan perpustakaan sederhana.

“Pada pertemuan bulanan, mereka ini kita berikan topik-topik,” imbuhnya pada rilis yang diterima Espos melalui mediacenterdiknas.

Fasli menyebutkan,  pemerintah telah mengeluarkan dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) sebanyak Rp 18 triliun dari nol pada 2005 dan tunjangan profesional guru sebanyak Rp 17,9 triliun dari nol pada 2006.

Menurutnya, tantangan pendidikan saat ini adalah bagaimana mengembangkan kapasitas para pendidikan. “Itu tantangan kita sesudah mengeluarkan BOS,” ujarnya.

Rektor Universitas Paramadina Anis Baswedan mendorong sektor swasta untuk lebih banyak ikut berperan dalam pendidikan. Menurut dia, penerima hasil pendidikan paling banyak ada di sektor swasta.

“Semuanya kita titipkan ke negara  untuk menyiapkan. Sudah saatnya swasta itu terlibat mengurusi pendidikan,” ujarnya.

Anis mengatakan, sektor swasta dalam hal ini adalah yang bergerak di bidang ekonomi dan bisnis. Dia meminta untuk membangun pendidikan sebagai investasi untuk menyiapkan manusia Indonesia lebih baik ke depan.

“Ini bukan hanya tugas negara, tetapi tugas semuanya karena kita mengajar spiritnya adalah mendidik. Tanggung jawab setiap orang terdidik. Bukan tanggung jawab guru dan sekolah saja, tetapi everyone,” lanjutnya.

Anita Lie menyampaikan, kisah-kisah para guru sejati dalam bukunya merupakan suatu oasis yang patut dibagikan. Buku ini, kata dia, merupakan dokumentasi pemikiran-pemikiran penulis seputar pendidikan.

Selain juga, kisah-kisah para pejuang pendidikan di berbagai daerah terpencil. “Masih ada harapan kesungguhan guru-guru untuk tetap mengabdi dalam keterbatasan,” tambahnya.

nad/*

lowongan pekerjaan
Marketing dan Surveyor, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Masyarakat Tertutup Era Keterbukaan

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (9/10/2017). Esai ini karya Ichwan Prasetyo, jurnalis Solopos. Alamat e-mail penulis adalah ichwan.prasetyo@solopos.co.id. Solopos.com, SOLO–Masyarakat tertutup mempertahankan keberadaannya melalui ketaatan mutlak kepada perintah yang diyakini benar, terlepas dari apakah kebenaran itu sudah diuji…