Senin, 20 Desember 2010 19:17 WIB Solo Share :

40% Rakyat Indonesia buta tuberkulosis

Solo (Espos)--Sekitar 40 persen rakyat Indonesia masih buta terhadap penyakit tuberkulosis (TB) lantaran rendahnya intensitas sosialiasi program pengendalian.

Keterbatasan dana menjadi kendala klasik dan vital sosialiasi pengendalian TB. Parahnya sebagian besar pemerintah daerah (Pemda) di Tanah Air tidak memprioritaskan program pengendalian TB.

Lebih kurang demikian benang merah Seminar dan Workshop Diseminasi Pengendalian TB Piagam Hak dan Kewajiban Pasien TB Bagi Pengambil Kebijakan, Senin (20/12) di Hotel Asia Solo.

Tampil sebagai pembicara Kasubdit TB Kementerian Kesehatan, drg Dyah Erti Mustikawati; Rektor Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ) dan Prof Dr Hj Masyitoh MAg memaparkan peran perguruan tinggi (PT) dalam pengendalian TB.

Dyah Erti menyampaikan 40 persen rakyat Indonesia belum tahu penyakit TB bisa disembuhkan melalui terapi di Puskesmas. Mereka tidak tahu terapi penyakit TB dilakukan gratis.

“Penyebabnya karena memang mereka belum terjangkau program sosialisasi atau advokasi pengendalian TB. Inilah yang menjadi pekerjaan rumah  pemerintah bersama pihak swasta mitra pemerintah. Harus ada inovasi-inovasi program untuk menjangkau 40 persen masyarakat itu,” katanya.

kur

lowongan pekerjaan
CV. HORISON, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Masyarakat Tertutup Era Keterbukaan

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (9/10/2017). Esai ini karya Ichwan Prasetyo, jurnalis Solopos. Alamat e-mail penulis adalah ichwan.prasetyo@solopos.co.id. Solopos.com, SOLO–Masyarakat tertutup mempertahankan keberadaannya melalui ketaatan mutlak kepada perintah yang diyakini benar, terlepas dari apakah kebenaran itu sudah diuji…