Minggu, 19 Desember 2010 19:55 WIB Travel Share :

Di Singapura, bus & taksi tak sembarang berhenti

Selain kereta Singapore Mass Rapid Transit (SMRT), salah satu cara mengeksplorasi keindahan tiap sudut Singapura adalah menggunakan bus kota. Ke manapun Anda hendak menuju, entah itu ke lokasi wisata atau di sudut-sudut yang kurang ternama di kota ini, bus bisa menjadi alternatif tumpangan berbiaya murah.

Tiketnya bisa menggunakan Ez-link yang dibeli di stasiun SMRT tertentu atau membeli tiket standar yang dijual di mesin tiket yang tersedia di seluruh stasiun SMRT. Atau bisa juga langsung membayar di bus, namun jumlah uangnya harus pas karena memang tidak ada kondektur. Harganya mulai SGD 1,2.

Total ada 800 bus yang melayani 74 rute untuk menjelajahi Singapura. Bentuknya macam-macam, ada bus kota seperti <I>busway<I> di Jakarta, bus tingkat atau bus tingkat dengan atap terbuka. Yang terakhir ini biasanya disewa khusus untuk tur keliling Singapura.

Bus ini juga cukup informatif. Di kaca atas bagian depan selalu terpampang pengumuman elektronik tentang jurusan yang hendak dituju. Antarbus tak ada yang namanya berebut penumpang atau sopir yang nekat saling salip dan kebut-kebutan. Calon penumpang harus menunggu di halte yang sudah ditentukan.

Di halte ini pun terpampang bus apa saja yang akan berhenti dan ke arah mana saja tujuannya. “Kalau Anda hendak naik bus, tidak bisa menyetop di sembarang tempat. Ada halte yang memang disediakan khusus bagi calon penumpang. Di situ sudah terpampang rute mana saja yang akan dilewati dan Anda tinggal pilih ke mana tujuan Anda,” urai Shaleeha, resepsionis hotel di kawasan Balestier Road saat Espos bertanya informasi untuk menuju Bugis Junction.

Bus kota di Singapura konsepnya mirip dengan <I>Batik Solo Trans<I> (BST) yang beroperasi di Solo. Namun di sana semua serba otomatis, serba mesin sementara di Solo masih manual. Di sana bus kota tak mau berhenti di luar tempat yang sudah ditentukan, sementara saat Espos beberapa waktu lalu sengaja naik BST berkeliling Solo, sesekali bus ini juga masih menaikkan atau menurunkan penumpang di luar halte yang sudah ditentukan.

Keteraturan dan kedisiplinan pelaku jasa transportasi maupun sikap masyarakat Singapura memang bisa dijadikan pelajaran untuk menentukan kebijakan sistem transportasi di Solo.
Selain bus, taksi juga tak mau asal berhenti untuk menaikkan atau menurunkan penumpang.

Taksi juga tak saling berebut penumpang. Ada tempat atau tanda-tanda khusus di mana taksi boleh berhenti untuk mengangkut atau menurunkan penumpang. Bahkan di titik-titik tertentu, untuk bisa naik taksi kita harus antre. Seperti pengalaman Espos yang hendak naik taksi dari Bugis Junction pada Rabu (15/12) pukul 22.00 waktu Singapura. Setelah naik kereta SMRT dan hendak melanjutkan perjalanan menuju Balestier Road, Espos mencoba naik taksi. Ternyata, tak bisa asal berebut untuk bisa segera mendapatkan taksi.

Espos juga harus berdiri antre bersama belasan calon penumpang lain. Panjang antrean saat itu mencapai sekitar 20 meter. Setelah antre sekitar 10 menit, barulah <I>Espos<I> bisa naik taksi.

“Kalau Anda tidak menunggu di tempat yang ditentukan, seharian mencegat taksi juga tidak akan ada yang mau berhenti. Atau misalkan Anda mau ke Bugis, namun mencegatnya di jalur menuju Changi, sopir taksi pasti tak akan mau berbelok sekadar mendapatkan dolar untuk mengangkut Anda,” terang salah satu sopir taksi kepada Espos.

tha-bersambung

lowongan pekerjaan
NSC FINANCE KARTASURA, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Ketika Uang Tunai Terpinggirkan

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (16/10/2017). Esai ini karya Riwi Sumantyo, dosen di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sebelas Maret. Alamat e-mail penulis adalah riwi_s@yahoo.com. Solopos.com, SOLO — Perkembangan teknologi digital yang super cepat mengubah banyak hal, baik di…