Sabtu, 18 Desember 2010 19:46 WIB Travel Share :

Catatan perjalanan dari Singapura (Bagian I)

Dengan Rp 56.000, bisa keliling kota sepuasnya

Menikmati keindahan tiap sudut Kota Singapura tak melulu harus merogoh kocek dalam-dalam. Dengan naik transportasi umum, ongkos lumayan bisa ditekan. Layanan pun relatif aman dan nyaman dan tepat waktu.

Berikut laporan wartawan SOLOPOS Yonantha Chandra Premana yang disajikan secara berseri mulai hari ini.

Begitu pesawat yang saya tumpangi mendarat di Bandara Internasional Changi, Singapura, Selasa (14/12) siang, pertanyaan pertama yang mesti dijawab adalah alat transportasi apa yang bakal saya pakai selama tiga hari di negeri ini. Maklum, Singapura dikenal sebagai negara dan kota yang serba mahal.

Bersama rekan wartawan dari LKBN Antara Satyagraha yang diundang dalam sebuah acara oleh Perkumpulan Indonesia Jerman EKONID, bermodal nekat kami sepakat menjajal moda transportasi umum cepat kereta Singapore Mass Rapid Transit (SMRT).

Dengan berbagai petunjuk yang tertera di Changi, tak sulit untuk menemukan di mana stasiun kereta SMRT berada, yang ternyata lokasinya terintegrasi di Bandara ini.

Di loket penjualan tiket, petugas menawari kami dua alternatif, apakah akan memakai tiket terusan satu hari atau tiket sekali pakai. Untuk tiket terusan atau yang dikenal dengan Ez-link, harganya 8 dolar Singapura (SGD) atau jika dirupiahkan setara Rp 56.000 (kurs Rp 6.900).

Sedangkan one way ticket dibanderol SGD 2 atau hampir Rp 14.000. Akhirnya kawan saya membeli tiket terusan sehari senilai SGD 8 dengan deposit SGD 10 sementara saya membeli tiket terusan dua hari senilai SGD 16, karena saya akan tinggal sehari lebih lama di Singapura.

Deposit bisa diambil lagi saat kita mengembalikan tiket yang berbentuk chip itu.
Sepintas, Rp 56.000 untuk ongkos transportasi umum terbilang mahal. Namun menjadi tidak mahal jika dengan uang sebesar ini, kita bisa berkeliling ke tiap sudut Singapura sepuasnya, seharian penuh.

Tak hanya itu. Kartu Ez-link ini bisa juga dipakai untuk naik bus kota karena semua rute terintegrasi antardua moda ini. Hendak ke pusat perbelanjaan Orchard Road, ke Merlion Park yag terkenal atau bahkan hendak menuju ke Sentosa Island, semua terlayani dengan satu tiket.

Bandingkan dengan naik taksi yang untuk mengantarkan ke satu lokasi saja, tarifnya bisa belasan SGD.

Hanya butuh waktu sekitar 30 menit, kami tiba di Stasiun MRT Bugis, stasiun terdekat dengan hotel tempat kami menginap. Di tiap pemberhentian, mesin operator menginformasikan bahwa kereta tiba di stasiun dimaksud plus informasi pemberhentian berikutnya.

Selain itu, layar yang terpasang di kereta juga memperlihatkan hal yang sama, sehingga memudahkan penumpang seperti kami, yang baru kali pertama naik moda transportasi ini.

Tak perlu tanya ke sana kemari, celingak-celinguk, karena semua kebutuhan informasi ke lokasi tujuan terpampang dengan jelas.

“Keretanya tepat waktu. Semuanya terhitung secara otomatis dan diumumkan. Saya membayangkan Jakarta bisa seperti ini, jadi tak harus berebutan, berdesakan, kumuh atau banyak pengamen di kereta komuter,” kata Satyagraha, rekan dari Antara yang sering memakai komuter di Ibukota.

Sesuai namanya, SMRT ini memang benar-benar cepat, tepat waktu dan massal. Antar stasiun ditempuh dalam sekian menit. Terukur dengan pasti di layar komputer.

Tak kalah pentingnya, bagian dalam kereta ini sungguh bersih. Tak terlihat ada sampah sedikitpun, atau tercium bau asap rokok. Pun tak ada penumpang yang makan. Maklum, itu memang sudah aturannya.

“Merokok didenda SGD 1.000 (Rp 6.900.000), makan dan minum didenda SGD 500 (Rp 3.450.000), bawa benda-benda mudah terbakar didenda SGD 5.000 (Rp 34.500.000).” Begitu bunyi peringatan yang terpampang di kereta.

Meski tak ada petugas, aturan ini sungguh ditaati karena di mana-mana tersebar kamera CCTV.

“Di sini, banyak warga Singapura yang memanfaatkan SMRT sebagai alat transportasi utama. Selain murah, ketepatan waktunya bisa diandalkan. Saya pernah ke Jakarta dan wah, kaget begitu keluar Bandara langsung dicegat kemacetan sedemikian parah,” cerita Simon, seorang pengusaha kayu saat berbincang dengan Espos.

Omongan Simon tak berlebihan. Data yang dikutip dari situs resmi SMRT menyebutkan, tiap hari lebih dari sejuta warga Singapura mengakses moda transportasi ini.

Bersambung

lowongan pekerjaan
PT SAKA JAYA ENGGAL CIPTA, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Masyarakat Tertutup Era Keterbukaan

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (9/10/2017). Esai ini karya Ichwan Prasetyo, jurnalis Solopos. Alamat e-mail penulis adalah ichwan.prasetyo@solopos.co.id. Solopos.com, SOLO–Masyarakat tertutup mempertahankan keberadaannya melalui ketaatan mutlak kepada perintah yang diyakini benar, terlepas dari apakah kebenaran itu sudah diuji…