Sabtu, 18 Desember 2010 15:59 WIB News Share :

2010, Indonesia banyak didikte luar negeri

Jakarta--Di penghujung tahun 2010 ini, banyak yang harus diintrospeksi kembali oleh Pemerintah Indonesia. Keadaan rakyat Indonesia semakin lama justru semakin memprihatinkan dan semakin jauh dari kesejahteraan.

Pemerintah Indonesia dinilai lebih banyak didikte oleh pihak asing dalam hal ini pemilik modal. Banyak kekayaan alam yang tidak dimanfaatkan dengan baik bagi kepentingan rakyat, melainkan lebih menguntungkan segelintir orang.

Demikian disampaikan mantan anggota DPR periode 1999-2004, Hatta Taliwang dalam Dialog Kebangsaan Refleksi Akhir Tahun 2010 di Aula Kebangsaan, Hypermall Kelapa Gading, Jakarta Utara, Sabtu (18/12).

Hatta menilai, di penghujung tahun 2010 masih banyak persoalan Bangsa yang harus dibereskan Pemerintah Indonesia. Terutama di segi ekonomi, dimana Tanah Air Indonesia sebanyak 50 persen dikuasai oleh 500 kelompok usaha, kemudian sumber daya air Indonesia sebanyak 65 persen dikuasai oleh perusahaan asing.

Kemudian masalah lainnya, yakni masalah perumahan. Di mana sebanyak 30 juta penduduk Indonesia tidak memiliki rumah, sedangkan saat ini diketahui bahwa para perusahaan pengembang rumah mematok harga setinggi langit.

Hal seperti ini jelas-jelas sangat merugikan rakyat yang memang benar-benar membutuhkan. “Sangat merisaukan saya. Kayaknya di negara ini kita menjadi tamu,” ucap Hatta.

Hatta menjelaskan, jumlah penduduk miskin di Indonesia tidaklah sedikit. Jika menurut Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah penduduk miskin di Indonesia sebanyak 30-40 juta orang dengan upah minimum sebesar Rp 5 ribu per hari.

Namun, jika dihitung sesuai dengan ketentuan Bank Dunia dimana upah minimum sebesar 2 dollar AS per hari, maka jumlah orang miskin di Indonesia angkanya mencapai 144 juta orang.

Sementara itu, di sisi lain ada 40 orang pengusaha di Indonesia yang memiliki kekayaan setara dengan 70 persen APBN Indonesia. Menurut Hatta, ini merupakan situasi yang sangat ironis di negeri ini.

“Hanya 40 orang di Indonesia menguasai 70 persen APBN kita. 40 orang memiliki kekayaan Rp 650 triliun. Hanya 40 orang menguasai 144 juta orang,” tegasnya.

Sebanyak 40 orang ini sebagian besar merupakan pengusaha tambang (baru bara), kelapa sawit dan rokok. Dan seperti diketahui, mayoritas orang miskin di negara ini sangat tergantung pada rokok, dan lebih memilih rokok daripada menyekolahkan anak-anak mereka.

“Orang kaya diperkaya oleh orang miskin di negara kita. Ini menjadi renungan. Apakah ini wajah Indonesia yang kita inginkan,” ujarnya.

“Ini rezim boneka. Rezim yang bisa dikendalikan dari luar,” imbuh Hatta.

Hatta menambahkan, melihat kondisi yang ada saat ini, Indonesia semakin mendekati indikasi negara gagal menurut Prof Robert I Rotberg.

Indikasi negara gagal tersebut adalah kalau rakyatnya sudah tidak lagi aman, keamanan tidak lagi terjami, konflik antar agama semakin meninggi, korupsi merajalela, legitimasi negara semakin menipis, serta negara rawan terhadap tekanan luar negeri.

“Satu-satunya solusi, ya kita ganti pemimpinnya,” tandasnya.

dtc/nad

lowongan pekerjaan
KISEL, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Wacana Lama Densus Antikorupsi

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat (20/10/2017. Esai ini karya Hafid Zakariya, Ketua Program Studi Ilmu Hukum di Universita Islam Batik (Uniba) Solo. Alamat e-mail penulis adalah hafidzakariya@gmail.com. Solopos.com, SOLO — Rencana pembentukan Detasemen Khusus Antikorupsi yang digulirkan kembali oleh…