Minggu, 12 Desember 2010 16:52 WIB Issue Share :

Potlot membidik Solo melalui film sosial

Dua buah film dokumenter karya komunitas Potlot diputar di Gedung Kesenian Solo (GKS), Minggu (12/12) pagi. Dua buah film karya komunitas ini mengetengahkan masalah-masalah sosial yang hidup di Kota Solo.

Film pertama bertema Keharmonisan Antarumat Beragama mengisahkan beragam agama yang hidup berdampingan di Solo. Dalam film yang berdurasi kurang lebih sembilan menit ini menghadirkan Paulus Hartono seorang pendeta mengatakan masyarakat Kota Solo sangat beragam. Hampir semua agama dan kepercayaan ada di Solo.

“Kita harus melakukan depolarisasi dan itu alangkah baiknya dimulai dari para pemuda,” kata sang Pendeta. Masyarakat dengan berbagai latar belakang agama dan suku bisa hidup bersama dan rukun satu sama lain. Menurut Paulus, kuncinya adalah saling menghargai pemeluk agama satu dengan agama lainnya.

Hal senada diungkapkan Ketua Forum Perdamaian Lintas Agama dan Golongan (FPLAG) Solo, Al Munawar dalam film Oase ini. Menurutnya yang harus dibenahi adalah manajemen konflik agar jika terjadi persinggungan tidak menimbulkan masalah.

Film kedua berjudul Simpang Sisih bertema Jangan Remehkan Kami. Film karya anak-anak muda yang tergabung dalam Potlot ini menceritakan tentang teman-teman Difabel. Seperti halnya film garapan mereka yang pertama. Dalam Simpang Sisih, mereka mewawancarai beberapa Difabel dan pengamat sosial.

Salah seorang difabel mengungkapkan keterampilan yang diberikan pemerintah kepada kaum difabel bersifat sementara. “Semacam itu hanya paketan saja. Yang penting mereka bisa jahit, lukis dan sejenisnya. Akan tetapi, mereka kurang memikirkan tahapan selanjutnya,” paparnya.

“Ini merupakan film perdana kami. Kami mewawancarai beberapa narasumber lintas agama dan latar belakang. Selain itu, kami ingin masyarakat tahu teman-teman Difabel ingin diperlakukan sama,” tutur Ketua Komunitas Potlot, Nirwan Kusuma kepada <I>Espos<I>, Minggu (12/12).

Nirwan menambahkan dua tema sengaja dipilih Potlot untuk sedikit memberi gambaran wajah Solo. Selain memutar dua buah film juga digelar diskusi mengenai proses kreatif pembuatan film ini. Komunitas yang notabene digawangi oleh pelajar Kota Solo ini berharap bisa membuat lebih banyak film tentang Solo.

m90

lowongan pekerjaan
PT Sejati Cipta Mebel, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
”Akad” Populer karena Berbeda

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu (14/10/2017). Esai ini karya Romensy Augustino, mahasiswa Jurusan Etnomusikologi Fakultas Seni Pertunjukan Institut Seni Indonesia (ISI) Solo. Alamat e-mail penulis adalah romensyetno@yahoo.com. Solopos.com, SOLO – -Youtube adalah salah satu media sosial yang menjadi rujukan…