Sabtu, 11 Desember 2010 18:30 WIB News Share :

Balita usia 2,9 tahun jadi pecandu rokok

Kalbar–SL, balita berusia 2,9 tahun asal Dusun Nirwana, Desa Sungai Kakap, Kecamatan Sungai Kakap sejak tiga bulan terakhir menjadi pecandu rokok.

“Dia sudah sudah mulai merokok sejak umur 2 tahun 6 bulan. Kami berdua sudah berusaha mencegahnya, namun kalau tidak diberi dia selalu nangis dan tidak mau berhenti kalau belum diberi rokok,” kata Pinah, ibu SL di Sungai Kakap, Sabtu (11/12) sore.

Menurut Pinah, kebiasaan anaknya itu mulai timbul karena faktor ayahnya, Sapi’i, yang biasa merokok di depan anaknya.

Dia menceritakan, tanpa sepengtahuan kedua orang tuanya, SL mengambil rokok ayahnya yang biasa terletak di atas meja dan menghisapnya sendiri.

“Waktu itu sudah kami marahi, tapi saat rokoknya diambil dia menangis dan tidak mau berhenti. Setelah diberi, baru dia diam, sampai sekarang masih seperti itu, dan kami juga bingung untuk menghentikannya, jadi kami biarkan saja,” tutur Pinah.

Pinah juga mengaku sudah kewalahan memenuhi kebutuhan rokok SL. Pasalnya, dalam sehari SL bisa menghabiskan setengah bungkus rokok.

Mulai dari rokok filter, mild, keretek hingga “longlat” juga diisap oleh SL.

“Kalau ada obat untuk SL pastinya akan kami berikan biar dia berhenti merokok. Kami sudah coba menghentikannya, sampai-sampai memberi rokok tersebut cabai, tapi SL masih juga tidak mau berhenti merokok,” ucap Pinah.

Melihat kondisi SL, menimbulkan keprihatinan bagi Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Kubu Raya, Rosalina Muda Mahendrawan.

“Terus terang saya sangat kesal melihat keluarga yang membiarkan SL merokok, seharusnya biarkan saja SL menangis, kan bisa dialihkan perhatiannya kepada permainan atau hal lain yang disukainya, namun kalau terus diberi rokok jelas itu salah besar,” terang Rosalina saat melihat langsung kondisi SL di Sungai Kakap.

Rosalina sendiri mengaku akan mencari jalan keluar untuk menghilangkan kebiasaan SL yang senang merokok.

Dia menyatakan akan berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan Kubu Raya untuk memberikan pengertian secara langsung kepada orang tua SL dan menggunakan jasa psikolog anak untuk menghilangkan kebiasaan anak tersebut.

“Kasihan, kalau dibiarkan terus, paru-parunya masih lemah karena baru dua tahun lebih, yang jelas kita akan cari cara untuk menolongnya,” ujar Rosalina.

ant/nad

lowongan pekerjaan
SUMBER BARU BEJEKI, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Calon Tunggal dan Disfungsi Demokrasi

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu (10/01/2018). Esai ini karya Isharyanto, dosen Hukum Tata Negara di Universitas Sebelas Maret Solo. Alamat e-mail penulis adalah isharyantoisharyanto8@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Pada 2018 ini 171 daerah provinsi/kabupaten/kota akan menyelenggarakan pemilihan kepala daerah secara serentak….