Foto: Gary Evano Foto: Gary Evano
Jumat, 10 Desember 2010 12:30 WIB News Share :

AP II siap turunkan petunjuk berbahasa Inggris kacau

Foto: Gary Evano

Foto: Gary Evano

Jakarta–Beberapa spanduk maupun petunjuk berbahasa Inggris di Bandara Soekarno-Hatta kacau. Ada salah tulis maupun salah tata bahasa. Sebagai pengelola bandara, PT Angkasa Pura II (AP II) akan mengecek dan siap menurunkan spanduk yang tulisannya kacau.

“Kami akan cek tulisan-tulisan yang ada. Kami akan turunkan atau koordinasikan (untuk memperbaiki tulisan) dengan yang membuat spanduk itu,” ujar Corporate Secretary PT AP II, Hary Cahyono, dalam perbincangan, Jumat (10/12).

Dijelaskan dia, Bandara Soekarno-Hatta sangatlah luas. Karena itu terkadang pihaknya kewalahan untuk mengecek tulisan-tulisan yang ada. Sebab banyak institusi yang memasang berbagai imbauan dan ada berbagai kegiatan bisnis di bandara.

“Kita kan luas sekali. Memang kita kontrol, tapi ada 1-2 yang terlewat. Makanya ini butuh kerja sama yang baik antara institusi maupun pebisnis di bandara itu dengan AP II,” sambung Hary.

Dijelaskannya, tidak semua spanduk di Bandara Soekarno-Hatta dikeluarkan oleh AP II. Jika spanduk hanya memasang logo AP II, maka yang mengeluarkan memang AP II. Namun terkadang ada pula kerja sama dengan pihak lain, sehingga yang dipasang logonya dalam spanduk itu bukan hanya logo AP II tetapi juga logo badan atau instansi yang memiliki kerjasama.

“Ada yang bukan murni produk AP II. Kalau tulisannya di mesin penjual minum, bisa jadi sengaja dibuat salah karena mau gaya, menjadi branding mereka,” ucap Hary.

Tulisan berbahasa Inggris kacau misalnya saja terlihat di papan penunjuk penyewaan mobil, tur dan travel di bandara yang terletak di Cengkareng, Tangerang, Banten itu. Dalam papan tertulis, Comport, Easy, Cheapers, Safety. Padahal maksudnya, Comfort (nyaman), Cheaper (lebih murah), dan Safe (aman).

Tidak hanya itu, dalam papan itu tertulis Droop and Pick Up padahal seharusnya Drop and Pick Up karena mengacu pada makna menurunkan dan menaikkan.

Gambar itu dijepret oleh salah satu penumpang pesawat yang berada di bandara tersebut, Gary Evano. Tidak hanya satu gambar yang menunjukkan kesalahan penulisan dalam bahasa Inggris, namun ada beberapa.

“Sebagai orang Indonesia saya malu dan prihatin dengan penggunaan Bahasa Inggris yang salah dan tidak sesuai dengan grammar (tata bahasa) dan ejaan yang benar,” kata Gary.

Gambar hasil jepretan Gary yang menunjukkan kesalahan penulisan, juga terdapat dalam petunjuk mesin penjualan (vending machine). Di mesin penjual minuman tersebut tertulis kalimat, Slowly Shack and Drink. Padahal seharusnya kata shack tertulis shake yang berarti kocok.

Di atas kalimat itu masih ada kata-kata yang tampaknya hanya bisa dimengerti oleh penulisnya sendiri yaitu drink shall feed after ice feeding.

Gary menambahkan, khususnya bagi turis yang berasal dari negara lain, petunjuk, peringatan, maupun tata cara pembelian di vending machine yang berbahasa Inggris sangatlah penting. Bila tidak, hal ini bisa membuat turis-turis dari luar negeri kebingungan.

“Saya rasa ini akan merusak first impression (kesan pertama) mereka terhadap Indonesia karena Bandara Internasional Soekarno-Hatta merupakan tempat pertama yang mereka singgahi ketika sampai di Indonesia,” lanjut Gary.

dtc/tiw

lowongan pekerjaan
, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Masyarakat Tertutup Era Keterbukaan

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (9/10/2017). Esai ini karya Ichwan Prasetyo, jurnalis Solopos. Alamat e-mail penulis adalah ichwan.prasetyo@solopos.co.id. Solopos.com, SOLO–Masyarakat tertutup mempertahankan keberadaannya melalui ketaatan mutlak kepada perintah yang diyakini benar, terlepas dari apakah kebenaran itu sudah diuji…