Kamis, 9 Desember 2010 10:19 WIB Hukum Share :

Takut jadi saksi, warga Pamekasan kabur dari RS

Pamekasan--Diduga ketakutan menjadi saksi kasus insiden eksekusi di Desa Balaban, Kecamatan Batumarmar, seorang warga kabur dalam kondisi betis dan tumit terluka pantulan peluru. Warga yang belakangan diketahui bernama Slamet ,36, diketahui tidak ada di ruang 2C Zal D Rabu (8/12) malam.

Kaburnya Slamet yang bertubuh pendek itu baru disadari setelah paramedis akan melakukan visite. Seperti lazimnya layanan rumah sakit, sejumlah paramedis yang piket di Zal D melakukan visite dengan memeriksa botol infus dan memberikan injeksi sesuai perintah dokter ke seluruh warga yang terluka kenda pantulan peluru.

Setelah ketujuh warga divisite, ternyata paramedis tidak menemukan Slamet. Setelah ditanyakan kepada warga Desa Blaban yang menjaga ke-7 korban luka, ternyata tak satupun yang mengetahui keberadaan Slamet. Akhirnya, paramedis melaporkan kepada anggota polisi yang ditugaskan di rumah sakit (RS).

“Benar. Kami menerima laporan jika seorang warga menghilang dari ruang rawat inap. Kami sudah tindalanjuti dengan melapor ke mapolres,” kata seorang polisi berpangkat Inspektur Satu yang enggan disebut namanya, Kamis (9/12).

Secara terpisah Kabag Ops Polres Pamekasan, Kompol Bambang Sulastro mengatakan, pihaknya telah memerintahkan anggotanya yang masih berjaga di Desa Blaban agar melacak keberadaan Slamet. Jika ditemukan, Slamet akan dikembalikan ke rumah sakit agar luka-lukanya tidak sampai infeksi.

“Tapi jika dikatakan kabur itupun tidak benar. Yang benar adalah pulang tanpa pamit,” kata Kompol Bambang mencoba meluruskan.

Terkait posisi Slamet yang menjadi korban pantulan peluru, menurut Kompol Bambang Sulastro, bisa saja yang bersangkutan diperiksa penyidik. “Apakah dalam kapasitas sebagai saksi atau naik menjadi tersangka, polisi masih butuh waktu untuk mendalami kasusnya,” ujar mantan Kabag Binamitra Polres Pamekasan.

Disingung kondisi terakhir TKP insiden eksekusi di Desa Blaban, Kompol Bambang Sulastro menegaskan jika kondisi Desa Blaban sudah normal kembali. “Sangat kondusif. Bahkan warga mulai bekerja seperti biasanya. Yang bertani pergi ke sawahnya, yang menjadi tukang batu juga menekuni pekerjaannya,” papar perwira yang murah senyum itu.

Sementara Kepala Desa Blaban, Supriyanto mengaku kondisi desanya sudah aman. “Meski polisi masih berjaga-jaga di sekitar obyek eksekusi, alhamdulillah warga sudah tidak mempedulikan insiden Rabu kemarin. Warga saya sudah menekuni pekerjaannya masing-masing,” tutur Supriyanto saat dihubungi detiksurabaya.com.

Disinggung dengan kaburnya Slamet, Supriyanto mengaku tidak mendengar warganya yang bertubuh cebol itu kabur dari rumah sakit itu. Supriyanto berjanji akan membantu polisi untuk melacak keberadaan Slamet.

Sebelumnya, terjadi insiden terkena pantulan peluru polisi saat warga berusaha menghalang-halangi eksekusi petugas Pengadilan Negeri (PN) Pamekasan di rumah dan tanah yang diklaim milik keluarga Buk Tonah ,64, Rabu. Dalam perseteruan itu PN memenangkan kasus tersebut ke Ny Halimah ,45.

Dari insiden itu delapan warga sipil mengalami luka di beberapa bagian tubuhnya. Sedangkan polisi yang mengalami pantulan peluru karet, lemparan batu dan sabetan senjata tajam berjumlah empat orang. Mereka dirawat di RSD Pamekasan dan Puskesmas Batumarmar.

dtc/tiw

lowongan pekerjaan
CV. HORISON, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Daya Beli Menurun

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Selasa (17/10/2017). Esai ini karya Ginanjar Rahmawan, mahasiswa Program Doktor Bidang Pemberdayaan Masyarakat dan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah Universitas Sebelas Maret. Alamat e-mail penulis adalah Rahmawan@stiesurakarta.ac.id. Solopos.com, SOLO–Belakangan ini beberapa kawan saya yang…