Kamis, 9 Desember 2010 14:57 WIB Boyolali Share :

Kasus kekerasan terhadap perempuan melonjak

Boyolali (Espos)–Lembaga Kajian untuk Transformasi Sosial (LKTS) merilis data jumlah kasus kekerasan terhadap perempuan dalam 12 bulan terakhir mencapai 497 kasus. Angka tersebut jauh lebih tinggi dari jumlah kasus dalam periode yang sama tahun lalu yang tercatat 319 kasus.

Ironisnya, kebanyakan pelaku kekerasan justru orang terdekat korban, baik suami maupun tetangga korban. Menurut Manager Program HAP LKTS, Dyah Ningrum Roosmawati, data tersebut diperoleh dari survey terhadap pemberitaan tentang perempuan di sejumlah media massa.

Sedang jumlah kasus kekerasan terhadap perempuan yang resmi dilaporkan ke lembaga penyedia layanan di Boyolali tahun ini sebanyak 41 kasus, atau satu kasus lebih sedikit dibandingkan tahun lalu.

“Angka tersebut tidak menunjukkan realitas di lapangan. Karena kasus yang terjadi namun tidak dilaporkan jumlahnya jauh lebih banyak. Terlebih beberapa waktu kondisi anak dan perempuan di pengungsian pasca Merapi memprihatinkan,” ungkap Dyah dalam rilisnya yang diterima, Kamis (9/12).

Prihatin atas kondisi tersebut, LKTS menggandeng sejumah organisasi perempuan di Kota Susu mengajukan usulan rancangan peraturan daerah tentang perlindungan prempuan dan anak korban kekerasan berbasis gender kepada Pemkab Boyolali. Raperda ini dimaksudkan untuk memberikan payung hukum bagi upaya perlindungan perempuan dan anak korban kekerasan berbasis gender yang selama ini dianggap belum maksimal.

kha

lowongan pekerjaan
PT SAKA JAYA ENGGAL CIPTA, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Masyarakat Tertutup Era Keterbukaan

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (9/10/2017). Esai ini karya Ichwan Prasetyo, jurnalis Solopos. Alamat e-mail penulis adalah ichwan.prasetyo@solopos.co.id. Solopos.com, SOLO–Masyarakat tertutup mempertahankan keberadaannya melalui ketaatan mutlak kepada perintah yang diyakini benar, terlepas dari apakah kebenaran itu sudah diuji…