Kamis, 9 Desember 2010 09:40 WIB Kesehatan Share :

Anggur mampu mengikat racun logam di otak

Manchester–Manfaat anggur serta buah-buahan lain yang berwarna biru dan ungu dalam mencegah pikun pada telah diteliti secara ilmiah. Penelitian terbaru mengungkap cara kerjanya, yakni dengan mengikat racun logam di otak.

Racun itu adalah senyawa hidroksil radikal yang terbentuk dari zat besi yang tidak terikat dengan sempurna. Di otak, penumpukan senyawa ini menyebabkan kerusakan sel dan memepercepat munculnya salah satu penyakit degeneratif yakni kepikunan.

Untuk menetralisir efek racun yang ditimbulkan, zat besi membutuhkan senyawa pengikat yang disebut chelator. Senyawa ini akan mengikat zat besi dan mendetoksifikasi sehingga tidak lagi membahayakan sel otak.

Salah satu sumber chelator yang mudah ditemui dalam makanan sehari-hari adalah buah dan sayur-sayuran, terutama yang berwarna biru atau ungu. Teh hijau, anggur dan blueberry merupakan contoh makanan dengan kandungan chelator yang cukup tinggi.

Seorang profesor dari University of Manchester, Douglas Kell mengungkap hal itu dalam sebuah penelitian belum lama ini. Temuannya tersebut telah dipublikasikan dalam jurnal Archives of Toxicology yang terbit baru-baru ini.

Dikutip dari Telegraph, Kamis (9/12), racun logam yang tidak terikat sempurna itu tidak hanya berisiko mempercepat kepikunan. Menurut Prof Kell, racun tersebut juga memicu berbagai penyakit generatif lain yang bisa menyerang bagian tubuh manapun.

Dugaan sebelumnya, manfaat anggur dalam mencegah pikun merupakan efek dari kandungan antioksidan di dalamnya. Dugaan ini juga dibantah oleh Prof Kell, karena antioksidan tidak akan banyak berguna selama racun logam masih dalam bentuk tidak terikat sempurna.

dtc/tiw

lowongan pekerjaan
ADMINISTRASI & KEUANGAN BISNIS, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Mengenang (Pendidikan) Guru

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat (24/11/2017). Esai ini karya Bandung Mawardi, kuncen Bilik Literasi. Alamat e-mail penulis adalah bandungmawardi@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Pada akhir abad XIX orang-orang Jawa mulai memiliki cita-cita baru. Sekian orang ingin menjadi guru seperti tuan kulit…