Kamis, 9 Desember 2010 18:20 WIB News Share :

28 Kerangka dipindah dari TPU di Magelang

Magelang–Belasan warga dari tiga dusun di Muntilan, Magelang, mengevakuasi 28 kerangka yang ada di pemakaman setempat.

Mereka khawatir kerangka jenazah akan hanyut tergerus banjir lahar dingin di Kali Pabelan.

Tiga dusun itu adalah Dusun Adikarto, Dusun Sudimoro, Desa Adikarto, Kecamatan Muntilan, Magelang, Jawa Tengah (Jateng).

Evakuasi ini dilakukan, setelah 25 makam tergerus di pinggir bantaran Kali Pabelan yang berhulu dari Kali Senowo di lereng Merapi.

Evakuasi dilakukan dari TPU yang tergerus banjir lahar dingin di Kali Pabelan menjauh ke arah timur. Sekitar 10 meter tepatnya di areal persawahan, yang merupakan tanah aset desa.

Makam yang hilang akibat terjangan banjir lahar dingin antara lain makam ulama setempat KH Najmudin, makam keluarga Cokro Sono, makam keluarga Edi Yusu, makam Siti Chomsatun, makam Saudah, makam Yamidah dan lainya.

Proses evakuasi dilakukan warga secara gotong royong mengambil kembali potongan-potongan mayat yang sudah berbentuk tulang belulang dengan peralatan manual yang sederhana.

Ke-28 tulang mayat itu berhasil diambil setelah warga selama tiga hari ini melakukan penggalian makam secara berhati-hati. Jika tidak, tulang belulang akan rusak atau patah akibat terkena cangkul yang digunakan.

Usai diambil dari makam lama, tulang belulang dikumpulkan sesuai bagian tubuh masing-masing mayat yang ada di dalam makam. Setelah dibersihkan, tulang belulang itu kemudian dikafani selayaknya menguburkan jenazah ke dalam liang lahat dalam proses pemakaman.

Tokoh masyarakat Sudimoro, Zamroni, 45, Kamis (9/12), menyatakan evakuasi dilakukan setelah mendapat izin dari ahli waris makam yang akan dievakuasi. Mbah Sartijo, 79, sang juru kunci makam, yang menghubungi mereka.

“Kita harus meminta izin dulu atau memberitahukan kepada ahli waris apakah makam itu boleh dipinjam atau tidak. Sebab, kalau ahli waris dan keluarga tidak terima bisa bermasalah,” tegas Zamroni.

Sekdes Sudimoro, Jazuli menyatakan pemindahan makam, selain meminta izin ahli waris juga dilakukan terhadap makam yang dalam kondisi kritis terancam oleh terjangan banjir lahar dingin. Terutama makam yang sudah di bibir sungai yang menghanyutkan 25 makam.

“Makam yang tergerus sudah mencapai kedalaman 12 meter dengan panjang 25 meter sehingga makam disini tinggal menyisakan separo tanah dari total luas makam sebelumnya,” tegas Jazuli.

Salamah, salah satu ahli waris makam yang dipindahkan, sengaja meminta tolong warga untuk memindahkan makam orang tua dan kerabat mereka sebagai bentuk penghormatan terhadap leluhur.

“Saya tidak tega dan menurut orang Jawa walaupun sudah meninggal dan tulang belulang, supaya arwahnya tenang saya minta pindahkan makam kerabat dan leluhur saya juga. Sebab kalau hujan sudah turun setiap hari saya merasa sangat was-was dan khawatir jika sewaktu waktu makam leluhur saya hanyut,” tegas Salamah.

Di TPU Desa Adikarto, masih banyak puluhan makam yang tidak terganggu dari ancaman banjir lahar dingin di bantaran Kali Pabelan.

Usai dievakuasi, tulang belulang mayat dikafani namun tidak dilakukan doa atau proses upacara apapun terhadap mayat yang dipindahkan ke tanah persawahan itu.

Rata-rata warga Dusun Sudimoro, Desa Adikarto, Kecamatan Muntilan menilai mendoakan jenazah bisa dilakukan dimana dan kapan saja tanpa ritual khusus bagi jasad leluhur mereka yang sudah menyisakan tulang belulang saja.

dtc/nad

lowongan pekerjaan
PT.MITRA PINASTHIKA MUSTIKA FINANCE, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Ketika Uang Tunai Terpinggirkan

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (16/10/2017). Esai ini karya Riwi Sumantyo, dosen di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sebelas Maret. Alamat e-mail penulis adalah riwi_s@yahoo.com. Solopos.com, SOLO — Perkembangan teknologi digital yang super cepat mengubah banyak hal, baik di…