Rabu, 8 Desember 2010 15:30 WIB Boyolali Share :

Sapi mati akibat Merapi bertambah 55 ekor

Boyolali (Espos)–Ternak sapi milik warga yang mati akibat awan panas Merapi di tiga kecamatan di Kabupaten Boyolali bertambah 55 ekor sehingga total menjadi 125 ekor. Namun Pemkab Boyolali baru akan memberikan bantuan berupa penggantian sapi kepada pemilik 70 ekor sapi yang sudah lebih dulu terdata.

Sedang terhadap 55 sapi tambahan ini, Disnakkan masih mengupayakan agar pemiliknya juga mendapat ganti rugi yang sama. Tapi dipastikan bantuan ini baru bisa terealisasi tahun depan.

Bertambahnya jumlah sapi yang mati ini baru diketahui, Rabu (8/12), setelah Disnakkan melakukan pendataan di desa-desa yang belum sempat terdata lantaran faktor alam. Sedangkan jumlah ternak kambing warga yang mati tidak berubah, masih 58 ekor.

“Tambahan sapi ini dari Desa Tlogolele dan desa lain di tiga kecamatan, yakni Selo, Cepogo dan Musuk. Kebanyakan warga dari desa yang belum terdata ini mengungsi di luar wilayah Boyolali,” ungkap Kepala Disnakkan Drs Dwi Priyatmoko ketika ditemui di ruang kerjanya.

Ia mengutarakan anggaran bantuan penggantian sapi yang sudah cair baru untuk 70 ekor sapi. Karena terlambat, tambahan jumlah  55 sapi yang mati belum masuk dalam anggaran bantuan penggantian sapi yang dibiayai oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).

Rencananya akan dianggarkan tahun 2011 masuk dalam pos bantuan sosial. Dwei mengaku, 55 sapi yang mati ini akan diganti dengan sapi milik korban Merapi lainnya yang dijual.

“Tapi sapi yang dijual hanya 49, masih kurang enam ekor. Ini nanti masuknya Bansos (bantuan sosial),” ujarnya.

kha

lowongan pekerjaan
PT.Swadharma Sarana Informatika, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Kanibalisasi Akademis

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Kamis (11/01/2018). Esai ini karya Abdul Gaffar, mahasiswa Program Doktoral Psikologi Pendidikan Islam Universitas Muhamamdiyah Yogyakarta. Alamat e-mail penulis adalah c.guevar@yahoo.com. Solopos.com, SOLO–Dunia akademis (kampus) dihebohkan dengan isu kapitalisasi dan kanibalisasi akademis sebagai akibat…