Selasa, 7 Desember 2010 09:27 WIB News Share :

Kawasan Merapi mulai banyak dikunjungi masyarakat

Sleman–Kawasan yang mengalami kerusakan parah akibat bencana Gunung Merapi di Kabupaten Sleman, kini mulai banyak dikunjungi masyarakat setelah Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi menurunkan status aktivitas Gunung Merapi dari “awas” menjadi “siaga”.

“Masyarakat sekitar Yogyakarta banyak yang datang ke kawasan bencana ini. Mereka sekadar ingin melihat kondisi daerah yang terkena awan panas maupun lahar panas Gunung Merapi,” kata Kepala Desa Kepuharjo, Kecamatan Cangkringan, Kabupaten Sleman Heri Suprapto, Selasa (7/12).

Lokasi yang banyak dikunjungi masyarakat di antaranya daerah Pangukrejo, Desa Umbulharjo, kawasan Pager Jurang dan sekitar Kepuh di Desa Kepuharjo, kawasan Srunen khusunya area makam Mbah Maridjan di Desa Glagaharjo dan daerah Bronggang dan Ngepringan di Desa Argomulyo.

“Namun masyarakat ini tidak bisa berkunjung ke seluruh wilayah tersebut karena jika dari arah barat atau jalan Kaliurang mereka hanya bisa sampai ke Pangukrejo, Pagerjurang dan Kepuh dan tidak bisa langsung ke Srunen atau Argomulyo,” tambahnya.
Hal ini, imbuhnya, karena diantara dua kawasan tersebut dibatasi Sungai Gendol yang merupakan aliran lahar Merapi dan saat ini belum bisa dilalui kendaraan.

Sejak status Gunung Merapi diturunkan yang diikuti penurunan zona aman dari 10 kilometer menjadi 2,5 kilometer, penjagaan di pintu-pintu masuk daerah tersebut juga lebih longgar dan tidak seketat saat Merapi masih dalam kondisi “awas”.

Di beberapa pintu masuk hanya dijaga oleh warga sekitar dan mereka membuka pos sumbangan sukarela bagi pengunjung yang ingin melihat kondisi daerah yang terkena bencana Gunung Merapi tersebut.

“Ini sifatnya sukarela. Saat ini kami sudah tidak punya apa-apa lagi sehingga kami mengharapkan bantuan dari masyarakat untuk memulai membangun daerah kami,” ucap salah satu warga yang tidak bersedia namanya disebut.

Menurut dia, sumbangan masyarakat tersebut kemudian dikelola bersama untuk memperbaiki atau memenuhi kebutuhan warga karena sampai saat ini mereka belum memperoleh akses ekonomi. Hampir seluruh akses ekonomi rusak, seperti peternakan sapi perah dan sektor wisata.

“Kotak sumbangan sukarela ini juga atas kesepakatan seluruh warga, dan nanti jika kondisi sudah mulai normal maka pos sumbangan sukarela juga akan ditutup,” ujarnya.

Sedangkan di objek wisata Kaliurang, meskipun belum secara resmi dibuka kembali namun sudah cukup banyak masyarakat yang berkunjung di lokasi tersebut.

Masyarakat ini sebagian besar bukan ingin berwisata, namun hanya melihat kondisi Kaliurang pascabencana letusan Gunung Merapi.

ant/nad

lowongan pekerjaan
PT. Jaya Sempurna Sakti, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Masyarakat Tertutup Era Keterbukaan

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (9/10/2017). Esai ini karya Ichwan Prasetyo, jurnalis Solopos. Alamat e-mail penulis adalah ichwan.prasetyo@solopos.co.id. Solopos.com, SOLO–Masyarakat tertutup mempertahankan keberadaannya melalui ketaatan mutlak kepada perintah yang diyakini benar, terlepas dari apakah kebenaran itu sudah diuji…