Selasa, 7 Desember 2010 05:34 WIB News Share :

Jelang Subuh Muktamar ICMI ricuh

Jakarta –– Hari menjelang subuh, namun Presidium Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) belum juga terpilih.  Malah, beberapa kericuhan sempat terjadi.

Organisasi Wilayah Maluku memilih walkout karena tidak didahulukan untuk memilih. Padahal mereka harus buru-buru karena dikejar jadwal penerbangan ke Maluku. Alhasil pimpinan sidang pun sibuk memanggil Ketua Orwil Maluku untuk mendiskusikan masalah ini.

“Kami belum menerima nama-nama dari Orwil Maluku. Kami masih menunggu Ketua Orwil jika masih mau membicarakan masalah ini,” ujar para pimpinan sidang berkali-kali melalui pengeras suara dalam Muktamar ICMI di Botani Square, Bogor, Selasa (7/12).

Keributan juga terjadi saat seorang peserta wanita asal Jawa Timur berniat mengkonfirmasi sesuatu hal pada pimpinan sidang. Namun ujung-ujungnya kedua pihak terlibat adu mulut dengan nada tinggi.

“Saya hanya mau konfirmasi. Bagaimana pimpinan ini,” teriak wanita itu.

Para peserta sidang yang lain berusaha menenangkan wanita itu. Ada yang mengingatkan salat ada juga yang membaca salawat.

“Ayo salat subuh dulu biar tenang. Salat dulu,” imbau hadirin.

Saat ini sidang pemilihan Presidium ICMI diskors untuk salat subuh. Setelah itu kembali dilanjutkan untuk voting presidium ICMI.

Rencananya sebelum tengah malam kemarin, seharusnya presidium sudah terpilih. Namun waktu molor hingga berjam-jam karena hujan interupsi dan kericuhan kecil.Generasi Muda ICMI Tolak

Sebelumnya, generasi muda Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) menolak Presidium diisi oleh politisi. Para politisi dikhawatirkan makin merontokkan kemandirian ICMI.

“Kita generasi muda ICMI prihatin kalau ICMI akan diarahkan oleh orang untuk kepentingan jangka pendek. Kami tidak rela Presidium ICMI diisi oleh politisi, ICMI bebas kepentingan politik manapun,” ujar tokoh muda ICMI, Ali Mundakir, kepada detikcom, Selasa (7/12/2010).

Kekhawatiran ini disampaikan Ali mengingat sejumlah politisi handal tanah air ikut mengadu nasib untuk menduduki posisi puncak di ICMI. Sebut saja Ketua DPP Partai Golkar Priyo Budi Santoso dan Menteri Kehutanan Zulkifly Hasan masih optimis akan lolos menjadi Presidium ICMI.

Menurut Ali, posisi para politisi bukan di Presidium ICMI. Seharusnya para politisi yang tak lain adalah kader senior ICMI memilih menjadi penasehat ICMI.

“Kalau mau berjuang tanpa pamrih ya silahkan di dewan pakar sebagai penasehat,” pintanya.

Namun agaknya keinginan Ali tak mudah direalisasikan. Pasalnya para politisi tersebut mulai membangun dukungan agar memenangkan voting dalam pemilihan Presidium ICMI yang menyisakan 11 kandidat.

“Oleh karena itu kita terus konsolidasi agar tidak terpecah belah karena kami ingin ICMI tetap berkembang, dipimpin Presidium yang anggotanya memiliki keahlian berbagai macam,” papar Ali.

Sementara ini sidang pemilihan Presidium ICMI terus berjalan alot. Saat ini tengah terjadi perdebatan terkait mekanisme pemilihan Presidium ICMI.

“Kami tetap ingin agar dilakukan musyawarah mufakat bukan voting,” tandasnya.


dtc/tya

lowongan pekerjaan
SOLO GRAND MALL, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
”Akad” Populer karena Berbeda

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu (14/10/2017). Esai ini karya Romensy Augustino, mahasiswa Jurusan Etnomusikologi Fakultas Seni Pertunjukan Institut Seni Indonesia (ISI) Solo. Alamat e-mail penulis adalah romensyetno@yahoo.com. Solopos.com, SOLO – -Youtube adalah salah satu media sosial yang menjadi rujukan…