Senin, 6 Desember 2010 10:51 WIB News Share :

Presidium yang netral paling pas untuk ICMI

Jakarta–Pola kepemimpinan yang paling pas untuk Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) adalah melanjutkan presidium. Lebih pas lagi jika anggota presidium netral dari Parpol.

“Saya rasa untuk ICMI tetap melanjutkan pola kepemimpinan kolektif, presidium. Karena dengan presidium, ICMI mensinergikan kekuatan dan potensi keragaman yang dimiliki,” ujarĀ  Burhanuddin Muhtadi dari Lembaga Survei Indonesia (LSI), Senin (6/12).

Disampaikan dia, cendekiawan itu luas, bisa datang dari akademisi maupun praktisi usaha. Dengan keberagaman itu, maka pola presidium dapat lebih luas mengakomodasi ICMI.

Sejak BJ Habibie tidak lagi menjadi Ketua Umum ICMI, menurutnya, tidak ada lagi tokoh cendekia yang memiliki kharisma setinggi mantan presiden itu. “Matahari tersebar di hampir semua aktivis ICMI, tidak ada yang memiliki kharisma luar biasa,” tutur Burhanuddin.

Dia melanjutkan, sebaiknya presidium ICMI juga netral dari Parpol. Hal ini penting untuk mengantisipasi penggunaan ICMI sebagai media untuk memperkuat syahwat politik.

“Setahu saya AD/ART belum diganti, sehingga aktivis Parpol tidak dibolehkan masuk dalam kepengurusan ICMI pusat. Namun ada aspirasi ICMI daerah yang ingin memutar jarum jam
sejarah. Saya berharap dalam muktamar, melarang parpol masuk ke struktur pengurusan pusat. Presidum harus netral dari Parpol, kecuali mengundurkan diri,” kata pria berkacamata ini.

Dalam muktamar ICMI yang masih berlangsung di Bogor, Jawa Barat, ini, diharapkan ICMI menegaskan potensinya sebagai ide dan bukan basis massa. Sebab kalau jadi basis massa maka akan didekati oleh banyak Parpol untuk keperluan pemilu.

Ilham Habibie, putra BJ Habibie, menjadi salah satu nama bakal calom presidium ICMI. Menurut Burhanuddin, Ilham adalah sosok yang memiliki kompetensi di bidang teknologi, namun di luar teknologi masih belum terlihat kemampuannya. Pun demikian dengan disebut-sebutnya nama Rahmat Gobel. Dari bidang usaha, Rahmat menunjukkan kompetensinya, namun di luar itu masih belum terlihat.

“Maka itu, presidium lebih cocok. Karena kelemahan yang satu akan ditutupi oleh anggota presidium yang lain. Sah-sah saja mereka masuk dalam presidium. Kalau formatnya ketua umum tidak ada yang saling menutupi,” ucap Burhanuddin.

Mekanisme kepemimpinan ICMI periode ke depan diramaikan oleh dua arus yaitu presidium dan ketua umum. Hal itu menyeruak di Muktamar V ICMI, di IPB International Convention Center, Bogor, Jawa Barat. Nama bakal calon presidium pun mengemuka, yakni Ilham Akbar Habibie, Sugiharto, Jimly Asshiddiqie, Priyo Budi Santoso, Marwah Daud Ibrahim, Hatta Rajasa, Rahmat Gobel dan Azyumardi Azra.

dtc/rif

lowongan pekerjaan
SMK CITRA MEDIKA SRAGEN, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Koes Plus dalam Peta Musik Indonesia

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (08/01/2018). Esai ini karya Lardianto Budhi, guru Seni dan Budaya di SMAN 1 Slogohimo, Wonogiri. Alamat e-mail penulis adalah s.p.pandamdriyo@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Pada Jumat, 5 Januari 2018, Yon Koeswoyo tutup usia. Beberapa tahun sebelumnya…