Minggu, 5 Desember 2010 13:22 WIB News Share :

Tangis bahagia warnai kepulangan pengungsi

Magelang--Isak tangis haru bercampur bahagia langsung pecah menjelang detik-detik kepulangan pengungsi akibat erupsi Merapi di Magelang, Jawa Tengah, Minggu (5/12).

Mereka pulang dari 200 shelter pengungsian Merapi di Lapangan Mancasan, Desa Gulon, Kecamatan Salam, Magelang.

Sebanyak 428 jiwa (114 KK) yang menempati pengungsian itu kini diizinkan pulang setelah status Merapi dua hari yang lalu diturunkan dari Awas menjadi Siaga oleh BPPTK.

Harapan mereka untuk kembali ke rumah masing-masing yang berada di dua kecamatan di Magelang yaitu Kecamatan Srumbung dan Kecamatan Dukun kini terkabul sudah.

“Bahagia! Harapan saya ini untuk yang terakhir kali. Semoga selamat sampai nanti-nanti dan bisa beraktivitas kembali. Insya Allah Merapi aman,” ujar Fatimah, 44, warga Desa Pule, Kecamatan Dukun, Magelang, yang beradius tujuh kilometer dari puncak Merapi.

Sebelum pulang, ratusan pengungsi melakukan doa bersama dan memotong tiga nasi tumpeng. Kegiatan ini dihadiri oleh Ketua Suriyah PC NU Magelang KH Abdul Rozak,  Ketua PC GP Anshor Magelang Chabibullah dan  Wakil Ketua PW GP Anshor Jateng Ahmad Majidun.

Setelah itu ratusan pengungsi menaiki truk-truk untuk diantar kembali ke rumah mereka. Tampak wajah sedih bercampur bahagia tersirat.

Wakil Ketua GP Anshor Jateng Ahmad Majidun menyatakan, sebelum mengantar pulang para pengungsi mereka sengaja memberikan bekal mental dengan memberikan siraman rohani.

“Kami berikan mereka ceramah keagamaan supaya mereka kuat dan kembali bangkit serta menata hidup mereka setelah kembali kerumah mereka masing-masing,”tegas Ahmad Majidun.

Majidun menegaskan hal itu dilakukan terutama bagi ibu-ibu dan anak-anak yang sudah selama 40 hari sama sekali belum pulang agar tidak shock dan trauma.

Pihaknya juga melalukan pendampingan pada pengungsi yang bekerja sebagai petani salak dan sayuran yang lahannya rusak akibat Merapi.

Para pengungsi pulang ke rumahnya dengan naik armada truk. Mobil pribadi milik beberapa pengurus PC NU Magelang juga dipakai untuk mengangkut ibu hamil, manula maupun mereka yang sakit.

Ada juga tiga truk untuk mengangkut barang-barang para pengungsi seperti pakaian, kebutuhan sembako dan peralatan masak mereka sehari-hari.

Sebagian pengungsi juga menunggang sepeda motor. Mereka akan memulai kehidupan yang baru yang telah hilang selama kurun waktu dua bulan lebih akibat erupsi Merapi.

dtc/nad

lowongan pekerjaan
PT Sejati Cipta Mebel, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Ketika Uang Tunai Terpinggirkan

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (16/10/2017). Esai ini karya Riwi Sumantyo, dosen di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sebelas Maret. Alamat e-mail penulis adalah riwi_s@yahoo.com. Solopos.com, SOLO — Perkembangan teknologi digital yang super cepat mengubah banyak hal, baik di…