Minggu, 5 Desember 2010 06:28 WIB Haji Share :

Pemulangan jemaah masih delay

Jeddah--Pemulangan jemaah haji Indonesia ke Tanah Air, hingga mencapai hari ke-14, Sabtu (4/12), masih terus mengalami penundaan (delay).

Penerbangan ke Tanah Air baik melalui Garuda Indonesia maupun Saudi Arabian Airlines tetap molor dari jadwal yang sudah ditentukan.

Jemaah haji Indonesia mulai pulang ke Tanah Air sejak Sabtu, 20 November 2010. Hingga hari ini, pemulangan ke Tanah Air sudah mencapai lebih dari 190 penerbangan.

Dari catatan Daker Jeddah hingga masa pemulangan Jumat (3/12/), penerbangan yang tepat waktu hanya 8 penerbangan. Rinciannya, 7 penerbangan dari Saudi Arabian Airlines dan 1 penerbangan Garuda. Saudi Arabian juga mencatat ada 2 penerbangannya yang lebih cepat dari jadwal.

Meski pemulangan menjadi tanggung jawab maskapai, namun masalah tersebut mau tidak mau membuat repot Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi.

PPIH harus memberikan penjelasan kepada jemaah serta mengatur ulang jadwal penggeseran jemaah dari Mekah ke Jeddah maupun dari hotel transit Jeddah ke Bandara King Abdul Azis.

Menteri Agama (Menag) Suryadharma Ali memberi perhatian serius atas kasus delay tersebut. Suryadharma, yang menjadi korban delay 9 jam, itu menilai pelayanan Garuda Indonesia pada musim haji tahun ini buruk dan mengecewakan.

Hampir sebagian besar proses pemulangan jemaah haji mengalami keterlambatan.

“Saya saja terlambat sembilan jam. Kemudian Sekjen saya dua puluh sembilan jam. Ada juga yang lain sampai dua puluh empat jam. Kondisi seperti ini merugikan jemaah haji,” terang Suryadharma.

Jika Garuda Indonesia tidak memperbaiki pelayanan, tambah dia, Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) akan menjajaki maskapai lain yang dianggap mampu melayani pemberangkatan dan pemulangan jemaah haji Indonesia.

Baik dari sisi ketersediaan pesawat, kesiapan manajemen maupun koordinasi dengan Pemerintah Arab Saudi.

Dalam penjelasan kepada Menag yang dikirim PPIH Jeddah melalui Dirjen Penyelenggaraan Haji dan Umrah, Jumat (3/12), Garuda antara lain berdalih keterlambatan tidak bisa terelakkan lantaran keterbatasan fasilitas di King Abdul Azis.

Keterbatasan itu antara lain, saat ini pintu (gate) di King Abdul Azis hanya 14 buah. Sementara seluruh penerbangan haji tahun ini mencapai 2.700 penerbangan, dengan rata-rata per harinya mencapai 180 penerbangan.

Pada kondisi tersebut, Garuda hanya mendapatkan layanan satu gate, sementara penerbangan yang harus dijalani mencapai 303 penerbangan dan mengangkut 119.000 jemaah.

Kendala lain adalah tempat parkir pesawat (apron A, C, West Apron dan North Terminal) belum menampung seluruh pesawat.

Ahda menambahkan, Garuda juga beralasan keengganan petugas keamanan Bandara memeriksa secara manual jika ditemukan benda logam pada jamaah juga menambah kelambanan proses di Bandara.

Garuda juga beranggapan manajemen pengelolaan terminal haji yang diserahkan ke pihak ketiga juga berpengaruh membuat pelayanan menjadi lamban. Sebab petugas yang diterjunkan dinilai banyak yang belum berpengalaman.

“Selain lewat Jeddah, pemulangan jemaah juga akan lewat Bandara Amir Muhammad Bin Abdul Aziz (AMMA). Untuk Madinah kemungkinan kecil terjadi delay. Dari pengalaman tahun lalu seperti itu. Tapi ini tetap harus diantisipasi karena adanya perbaikan di AMAA,” jelas Zainal.

dtc/nad

lowongan peekrjaan
PT. Integra Karya Sentosa, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Ketika Uang Tunai Terpinggirkan

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (16/10/2017). Esai ini karya Riwi Sumantyo, dosen di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sebelas Maret. Alamat e-mail penulis adalah riwi_s@yahoo.com. Solopos.com, SOLO — Perkembangan teknologi digital yang super cepat mengubah banyak hal, baik di…