Sabtu, 4 Desember 2010 17:31 WIB News Share :

Kepulangan pengungsi Merapi di Magelang tertunda

Magelang–Sekitar 11.784 pengungsi yang tersebar di Kabupaten Magelang, Jawa Tengah (Jateng) direncanakan akan dipulangkan ke rumahnya masing-masing Sabtu (4/12) hari ini.

Namun rencana kepulangan pengungsi itu akhirnya ditunda karena minimnya armada yang disediakan Satkorlak Penanggulangan Bencana Erupsi Gunung Merapi Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Magelang.

“Selain karena menunggu giliran armada, sebagian pengungsi bertahan karena kondisi rumah mereka masih dalam keadaan rusak,” kata Kepala Bidang Penanggulangan Bencana Satkorlak Penanggulangan Bencana Erupsi Merapi Moch Damil A Yani saat ditemui detikcom di Pos Induk Satkorlak, Magelang, Sabtu.

Para pengungsi ini sejak status Merapi dinyatakan turun dari awas menjadi siaga, sudah mulai berkemas-kemas untuk bisa pulang ke rumahnya kembali. Kepulangan pengungsi ini pun ditunda hingga besok, Minggu (5/12).

“Kepulangan mereka ya menyesuaikan armada,” ujar staf Satkorlak penanggulangan bencana erupsi Magelang, Ita Kusumawati.

Bandi, 58, salah seorang pengungsi dari Desa Paten, Kecamatan Dukun mengatakan, sudah 2 hari lalu berkemas-kemas untuk pulang. Namun angkutan yang hendak mengantarnya pulang belum juga datang.

“Nunggu armada angkutan dari bapak-bapak pemerintah mas. Katanya yang mau pulang sudah mengantre banyak. Jadi ya kita berusaha untuk sabar saja,” ungkap Bandi.

Tolak program pembelian ternak

Program pembelian ternak milik pengungsi oleh pemerintah pusat dinilai lamban. Ternak pengungsi Merapi baru akan dibeli pemerintah Minggu (5/11), setelah pengungsi direncanakan bisa pulang ke rumahnya.

Para pengungsi Merapi di Magelang pun ramai-ramai menolak program tersebut.

“Pembelian ternak yang dilakukan pemerintah sangat lamban. Dulu waktu kita mengungsi cuma hanya didata dan didata saja. Padahal saat itu kita butuh uang untuk bertahan di pengungsian,” kata seorang pengungsi, Bandi.

Warga Desa Paten, Kecamatan Dukun ini menuturkan, proses pendataan yang dilakukan pemerintah kepada para pengungsi baru dilakukan sebulan yang lalu dan sampai saat ini tidak ada realisasinya.

Bandi tak rela 2 ekor kerbau miliknya yang sudah bertahun-tahun dia urus sendiri, harus dibeli pemerintah dengan harga yang murah.

“Dulu saya beli sapi saya yang betina umur 2 tahun seharga Rp 4 juta. Kalau dibeli murah sama pemerintah sekarang sudah berumur 6 tahun ya saya keberatan,” ungkapnya.

Menurut Bandi, lebih baik pemerintah memberi bantuan berupa bekatul dan garam krasak yang bisa digunakan untuk makan dan minum ternak miliknya.

“Kalau itu tidak ada masalah. Apalagi diberi bantuan pengobatan ternak, kami malah terima,” pintanya.

dtc/nad

lowongan pekerjaan
ADMINISTRASI & KEUANGAN BISNIS, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Kanibalisasi Akademis

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Kamis (11/01/2018). Esai ini karya Abdul Gaffar, mahasiswa Program Doktoral Psikologi Pendidikan Islam Universitas Muhamamdiyah Yogyakarta. Alamat e-mail penulis adalah c.guevar@yahoo.com. Solopos.com, SOLO–Dunia akademis (kampus) dihebohkan dengan isu kapitalisasi dan kanibalisasi akademis sebagai akibat…