Jumat, 3 Desember 2010 13:58 WIB Ekonomi Share :

Petani menolak, rencana penanaman tebu 97 Ha batal

Blora–Rencana penanaman tebu seluas 97 hektare di Kecamatan Randublatung, Kabupaten Blora, Jawa Tengah, dibatalkan karena petani enggan terikat kontrak dengan pabrik gula yang direncanakan beroperasi tahun 2014.

Kepala Unit Pelayanan Teknis Daerah (UPTD) Dinas Pertanian dan Pekebunan Blora, Hartono, di Randublatung, Jumat (3/12), mengatakan dalam rencana definitif kebutuhan kelompok (RDKK) sudah mengajukan lahan seluas 97 hektare untuk mendukung pendirian pabrik gula, namun setelah dihitung untung dan ruginya, para petani tebu setempat  memilih mengurungkan niatnya bekerja sama dengan PT Industri Gula Nusantara (IGN).

“Hal disebabkan karena beroperasinya pabrik gula akan dimulai tahun 2014, sedangkan petani tebu yang saat ini sudah menanam, kalau sudah terikat secara berkesinambungan, maka tebu yang siap panen harus dikirim ke Cepiring, Kendal, selama pabrik belum beroperasi, hingga tahun 2014,” katanya.

Menurut dia, petani setempat bukan berarti tidak mendukung pendirian pabrik gula, tetapi mereka telah menghitung jarak transportasi antara wilayah setempat menuju ke Cepiring, Kendal.

“Kecuali dari PT IGN menyediakan sarana transportasi untuk mengangkut tebu dari lokasi. Sebab selama ini petani tebu setempat  terbiasa mengirim tebu ke wilayah pabrik gula  terdekat, seperti di Ngawi dan Madiun, Jawa Timur, dengan harga 1 ton Rp 370.000 hingga Rp 410.000,” jelasnya.

Menurut dia, saat ini luas area tebu rakyat yang produktif di wilayah setempat, seluas 90 hektare, dan para petani, selama ini sudah melakukan kerja sama dengan pabrik gula terdekat.

“Luas lahan tebu rakyat yang produktif tersebut ditanam oleh kelompok tani Sumber Rejeki I dan II, Desa Tlogotuwung,” ujarnya.

Pada kesempatan lain, Paimin, Kepala Desa Temulus, Kecamatan Randublatung, mengatakan, penentuan lokasi pendirian pabrik gula di wilayah Desa Tinapan, Kecamatan Todanan, dinilai kurang strategis dan efektif, sebab selain mengurangi area bumi perkemahan Pramuka, lokasi pendirian pabrik gula sangat berdekatan dengan wilayah pabrik gula di Kabupaten Pati dan Kudus.

“Padahal untuk pengembangan industri, kami nilai wilayah Blora selatan sangat strategis, disamping itu ketersediaan air untuk irigasi  mencukupi karena berdekatan dengan aliran Bengawan Solo,” katanya.

Sebelumnya, Kepala Distabun Blora, Sutikno Slamet, mengatakan, untuk penanaman tersebut, melalui RDKK yang dibuat oleh kelompok tani, petani tebu direncanakan akan mendapat bantuan dana yang dikucurkan dari Kredit Ketahanan Pangan dan Energi (KKPE) melalui bank yang ditunjuk.

“Para petani akan mendapat pinjaman Rp18 juta per hektare untuk ongkos tanam sampai dengan tebang dan angkut,” tandasnya.

ant/rif

lowongan pekerjaan
PT. ATALIAN GLOBAL SERVICE, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Masyarakat Tertutup Era Keterbukaan

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (9/10/2017). Esai ini karya Ichwan Prasetyo, jurnalis Solopos. Alamat e-mail penulis adalah ichwan.prasetyo@solopos.co.id. Solopos.com, SOLO–Masyarakat tertutup mempertahankan keberadaannya melalui ketaatan mutlak kepada perintah yang diyakini benar, terlepas dari apakah kebenaran itu sudah diuji…