Kamis, 2 Desember 2010 14:04 WIB News Share :

Terbukti terima suap, hakim Roy akhirnya dipecat MA

Jakarta–Hakim Pengadilan Negeri Balige, Sumatera Utara, Roy M Maruli Napitupulu akhirnya dipecat oleh Mahkamah Agung (MA) karena terbukti menerima suap Rp 50 juta. Roy pun mengaku kecewa dan akan pikir-pikir melaporkan balik orang yang menyuapnya.

“Memberhentikan dengan tidak hormat Hakim Roy M Maruli Napitupulu,” kata ketua Majelis Kehormatan Hakim (MKH) Zainal Arifin di Gedung MA, Kamis, (2/11).

Dalam putusannya, MKH berkeyakinan jika Roy telah melakukan tawar menawar perkara dengan pihak berperkara. Selain itu, terjadi proses transaksi putusan senilai Rp 50 juta. MKH juga menyayangkan atas sikap Roy yang tidak menyesali perbuatannya.

“Perbuatan Roy melanggar kode etik hakim,” tambah Zainal.

Menanggapi putusan ini, Roy mengaku kecewa karena saksi yang dibawa oleh Roy tak didengar MKH. Akibat putusan ini, karir Roy yang dibangun sejak 2001 pun tamat sudah. “Saya kecewa atas putusan ini,” tutur Roy.

Roy sendiri masih menyangkal menerima uang suap tersebut. Namun, dia masih pikir-pikir jika akan melaporkan balik pemberi suap karena telah memberikan gratifikasi.

“Lihat nanti saja,” beber Roy singkat.

Salah seorang anggota MKH yang juga kandidiat kuat anggota Komisi Yudisial (KY), Abbas Said mengaku puas. Selama sidang, dia yang paling galak mencecar Roy. Berkali- kali dia memberikan teguran keras kepada Roy tentang pentingnya arti kejujuran.

“Selama ini, kan katanya hanya usulan MKH dari MA saja yang bisa dipecat. Ini buktinya, usulan dari KY juga bisa,” tegas Abbas usai sidang.

Sebagaimana diketahui, Roy dilaporkan ke KY karena diduga menerima suap untuk meringankan terdakwa. Namun dalam putusannya, Roy yang selaku Ketua Majelis Hakim tetap menghukum 6 tahun penjara buat Sontiar dan 1 tahun untuk David.

dtc/rif

lowongan pekerjaan
Gramedia Surakarta, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Pilkada, Demokrasi, dan Hantu Politik

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu (17/01/2018) dengan judul Demokrasi Kita dan Hantu Politik. Esai ini karya Muhammad Fahmi, dosen di IAIN Surakarta dan Doktor Kajian Budaya dan Media. Alamat e-mail penulis adalah fahmielhalimy@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Tahun 2018 sering dijuluki…