Kamis, 2 Desember 2010 23:34 WIB Solo Share :

“Jadikan kampung basis budaya Solo”

Solo (Espos)--Perkampungan di Kota Solo tidak mendapat perhatian dari Pemerintah Kota Solo sebagai basis kebudayaan. Sebaliknya, geliat modernitas di Kota Solo tidak terbendung dan cenderung meninggalkan kebudayaan Jawa.Hal ini membuat para budayawan di Kota Solo merasa gelisah.

Salah satu pegiat kebudayaan, Sarjana Lelana Putra kepada Espos mengutarakan kampung seharusnya menjadi basis dan produksi kebudayaan.Dari kampung itulah maka akan berefek pada integrasi masyarakat yang mewujudkan rasa gotong royong dan kebersamaan.

“Namun ternyata pemerintah tidak melihat itu. Yang lagi digarap yaitu <I>branding<I> kebudayaan di kalangan atas untuk tujuan wisata yang tidak mencerminkan produksi asli orang Solo,” paparnya, Kamis (2/12).

Jika tidak lekas disadari, kondisi kebudayaan di Kota Solo akan berada diambang kepunahan.

Perkampungan di Solo, katanya, menyimpan kebudayaan Jawa yang besar yang membutuhkan perhatian. Potensi ini jika mampu diangkat dan dikembangkan, maka akan menciptakan suasana kemasyarakatan yang damai dan saling menghargai perbedaan, tercipta kerukunan dan keadilan
sosial.

“Kalau ini sudah terbentuk, maka kampung itu akan menjadi pusat wisata juga, wisata menjadi tujuan kesekian dari pelestarian kebudayaan itu sendiri,” katanya.

Tokoh budayawan yang arab di panggil Jawul ini melihat pembangunan kota jauh dari nilai-nilai luhur budaya Jawa. “Kita lihat dari segi arsitektural saja, bangunan pencakar langit dan mall-mall di Solo tidak menggambarkan kebudayaan Jawa,” katanya.

Sedang dari segi sosial, tambahnya, rasa kebersamaan dan gotong-royong di dalam masyarakat sudah luntur bahkan hilang. Kalau ini dibiarkan, dikhawatirkan kebudayaan Jawa yang adiluhur tidak akan terwariskan lagi pada generasi berikutnya. “Hal inilah kekhawatiran kita. Kalau dinilai, kebudayaan di Solo tinggal diangka dua atau tiga, hampir punah,” tambahnya.

m86

lowongan pekerjaan
PT. Lemindo Abadi Jaya, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Perempuan Melawan Pelecehan Seksual

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Selasa (16/01/2018). Esai ini karya Evy Sofia, alumnus Magister Sains Psikologi Universitas Muhammadiyah Surakarta. Alamat e-mail penulis adalah evysofia2008@gmail.com.  Solopos.com, SOLO—Empathy is seeing with the eyes of another, listening with the ears of another,…