Rabu, 1 Desember 2010 18:37 WIB Wonogiri Share :

53,84% Penderita HIV/AIDS Wonogiri meninggal

Wonogiri (Espos)–Sebanyak 53,84% atau tujuh dari 12 penderita HIV/AIDS di Wonogiri tercatat meninggal dunia. Para penderita HIV/AIDS atau ODHA tersebar di lima dari 25 kecamatan yang ada di Pemkab Wonogiri.

Guna mengantisipasi dan menurunkan angka penderita, mulai akhir tahun ini Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) akan mengoptimalkan pemeriksaan terhadap para pembantu rumah tangga (PRT) urban. Sebab hasil pelacakan petugas DKK, para ODHA (orang dengan HIV/AIDS) terjangkit saat boro.

Penegasan bernada peringatan itu disampaikan Kepala DKK Wonogiri, dr Aug Jarot didampingi Kabid Pemberantasan Penyakit Menular dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) DKK Wonogiri, dr Tuty Darsari, Rabu (1/12).

“Hari ini memang Hari AIDS se-dunia peringatan dipusatkan di Jawa Timur. Wonogiri juga memperingati secara sederhana, yakni kunjungan atau visit ke rumah-rumah ODHA. Di Soloraya ODHA Wonogiri paling sedikit,” ujar dr Aug Jarot.

Saat ditemui Espos di ruang kerja, Aug Jarot menjelaskan Pemkab Wonogiri berusaha menekan angka ODHA. “Langkah efektif dan akan kami optimalkan tahun ini adalah mewaspadai serta memeriksa PRT urban. PNS sudah ada pemeriksaan rutin, utamanya saat menjadi CPNS,” jelas Jarot.

Mantan Kepala Puskesmas Jatisrono ini menjelaskan, masyarakat diharapkan ikut mengawasi dan tidak mengucilkan ODHA. Salah satu ciri, jelasnya, seseorang terserang HIV/AIDS adalah sariawan tak sembuh-sembuh.

“Istilah jawa gomen terlalu lama. Ciri umum lain, warga menderita flu lama dari biasa. Tanda-tanda umum terus disosialisasikan. Pencegahan paling efektif adalah tidak ganti-ganti pasangan.”

Ditambahkan oleh Kabid P2PL, dr Tuty Darsari hingga 2010 jumlah ODHA Wonogiri 13 orang. “Tujuh penderita sudah meninggal, seorang ODHA boro dan sisanya atau lima ODHA dalam pemantauan petugas kesehatan. Lima orang, dua di antaranya Balita dengan salah satu Balita kedua orangtua sudah meninggal.”

Disebutkan oleh mantan Kepala Puskesmas Baturetno ini, lima kecamatan adalah Ngadirojo, Selogiri, Jatipurno, Giriwoyo dan Nguntoronadi. Dikatakannya, pemerintah memfasilitasi para ODHA.

“Utamanya kontrol di rumah sakit, biaya transportasi menjadi beban penderita. Tahun ini biaya penanggulangan HIV/AIDS Wonogiri cuma Rp 15 juta dan habis. Jika ditemukan penderita baru tidak ada dana lagi.”

Sementara itu, Camat Selogiri Bambang Haryanto mengaku masyarakatnya cukup toleransi terhadap ODHA. “Tidak ada pengucilan, justru ODHA diajak berkomunikasi serta dilibatkan dalam kegiatan kemasyarakatan agar tidak tersisihkan. Pemerintah sendiri sudah menjalankan fungsi sebagai penjamin dan pelayan. Artinya, memberikan pelayanan kesehatan dan menjamin ODHA saat berobat di rumah sakit Moewardi Solo.”

tus

lowongan pekerjaan
NSC FINANCE KARTASURA, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Wacana Lama Densus Antikorupsi

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat (20/10/2017. Esai ini karya Hafid Zakariya, Ketua Program Studi Ilmu Hukum di Universita Islam Batik (Uniba) Solo. Alamat e-mail penulis adalah hafidzakariya@gmail.com. Solopos.com, SOLO — Rencana pembentukan Detasemen Khusus Antikorupsi yang digulirkan kembali oleh…