Senin, 29 November 2010 14:01 WIB Ekonomi Share :

Wapres
Krisis dunia belum selesai, RI waspada tinggi

Jakarta–Situasi perekonomian dunia saat ini belum bisa dikatakan normal, krisis masih menghantui perekonomian dunia khususnya di wilayah Eropa. Karena itu, Indonesia harus tetap menjaga kewapadaan yang tinggi.

Demikian disampaikan oleh Wakil Presiden (Wapres) Boediono saat ditemui di sela Seminar Strategi Globalisasi Perekonomian Indonesia di Hotel Dharmawangsa, Jakarta, Senin (29/11).

“Krisis dunia belum usai. Kita harus tetap waspada, kalau kita pelajari sejarah krisis, alur perkembangan krisis hampir selalu sama,” ujar Boediono.

Dikatakan Boediono saat ini situasi dunia makin tidak pasti dan penuh dengan risiko. Akhir-akhir ini becana terus meneerus melanda berbagai kawasan dunia tidak terkecuali Indonesia. Situasi politik duia pun memanas. Situasi ini semua jelas mempengaruhi perekonomian global.

“Melihat kenyataan dunia ini kita tidak bisa bersantai-santai, dan kita harus tetap menjaga kewaspadaan yang tinggi,” imbuh Boediono.

Belum lagi, pasca krisis ekonomi global, kebangkitan ekonomi belum terjadi kecuali di sejumlah negara Asia dan Amerika Latin. ” Upaya koordinasi kebijakan antar negara dibayang-bayangi oleh momok proteksionisme dan perang mata uang, currency wars. Beberapa negara Eropa bahkan saat ini masih harus bergulat dengan krisis kepercayaan yang rumit,” jelas Boediono.

Untuk Indonesia, Boediono mengatakan, cara menghindari krisis adalah disiplin anggaran negara yang ketat. “Agar bubble tidak terbentuk dan menjadi besar harus pula diberlakukan disiplin kepada pelaku ekonomi lain, perbankan dan pelaku keuangan lain, korporasi dan bahkan rumah tangga,” ujarnya.

“Indonesia sudah berhasil melewati krisis dengan baik,lebih baik dari krisis pengalaman kita 12 tahun lalu dan lebih baik daripada banyak negara lain. Tetapi, melihat kenyataan dunia ini kita tidak bisa bersantai-santai, dan kita harus tetap menjaga kewaspadaan yang tinggi,” tukas Boediono.

dtc/rif

lowongan pekerjaan
SMK CITRA MEDIKA SRAGEN, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Calon Tunggal dan Disfungsi Demokrasi

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu (10/01/2018). Esai ini karya Isharyanto, dosen Hukum Tata Negara di Universitas Sebelas Maret Solo. Alamat e-mail penulis adalah isharyantoisharyanto8@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Pada 2018 ini 171 daerah provinsi/kabupaten/kota akan menyelenggarakan pemilihan kepala daerah secara serentak….