Senin, 29 November 2010 14:58 WIB Kolom Share :

Kebenaran memang harus diuji…

Engkau pasti menuduhku telah bersekutu dengan setan//Menyangka apa yang kumiliki aku dapat dari dusta//Engkau mulai kasak-kusuk, bergunjing ke sana-sini//Melilitkan isyu di leherku, mengipaskan suasana panas//Entah apa yang harus kujelaskan, aku enggan bicara//Yang penting suara dalam jiwaku, adalah kebenaran//Biarpun hanya Tuhan yang mendengar…

Senandung lagu Isyu Ebiet G Ade yang mengalun di News Cafe kampung kami Sabtu malam Minggu kemarin, menambah suasana jagongan kian gayeng. Entah karena kebetulan atau gara-gara lagu itu, diskusi kampung yang dimotori Raden Mas Suloyo malam itu membahas soal kebenaran, tentang isyu, mengenai fitnah.

”Pak Beye, sering benar berbicara soal fitnah. Tadi baru saja Beliau bilang bahwa ada pihak tertentu yang memfitnah Partai Demokrat terkait dengan polemik saham PT Krakatau Steel. Partai Demokrat, kata Pak Beye, difitnah mendapat keuntungan dari Krakatau Steel. Genahe piye ta Mas,” kata Denmas Suloyo kepada Mas Wartonegoro.

”Genahe ya susah dibuktikan Denmas, namanya juga isyu. Isyu itu fakta psikologis yang harus dibuktikan kebenarannya terlebih dahulu… ini membutuhkan bermacam-macam alat bukti, bukan hanya omongan,” kata Mas Wartonegoro.

”Lha piye ta? Sampeyan ini kan seorang wartawan yang pekerjaannya menuliskan fakta dan itu kan harus benar. Berita-berita yang sampeyan tulis di koran itu sudah dibuktikan kebenarannya belum? Kalau belum berarti ya sebatas isyu dong…” sergah Denmas Suloyo.

”Berita yang sudah muncul di koran itu tentu saja sudah diusahakan soal kebenarannya, itu pasti Denmas. Hanya saja, kalau faktanya adalah fakta psikologis, talking news, omongan orang… seperti yang disampaikan Pak Beye tadi kan susah juga mengecek kebenarannya. Kepada siapa kita melakukan konfirmasi soal adanya fitnah itu,” terang Mas Wartonegoro panjang lebar.

Kebenaran terus dicari

Dalam jurnalisme, kata Bill Kovack dan Rosintiel, kebenaran bersifat fungsional. Kebenarn seringkali tampil secara subyektif. Kebenaran dalam jurnlistik adalah kebenaran yang secara terus menerus harus dicari. Kebenaran fungsional, diibaratkan seorang polisi yang melacak dan menangkap tersangka. Hakim menjalankan peradilan juga berdasar kebenaran fungsional. Kebenaran itu, kata mereka senantiasa bisa direvisi.

Perkara kebenaran ini , membuat saya teringat dengan kisah seorang bernama Faradhita, sahabat Helmy Yahya. Ceritanya diposting kawan ke mailbox saya. Peristiwanya sudah berlangsung beberapa tahun silam, ketika Helmy dengan rumah produksinya mencari seseorang untuk diongkosi naik haji.

Faradhita yang menyertai Helmy bertutur, dari sekian orang yang diwawancarai dengan teknik kamera tersembunyi, tak juga ditemukan orang yang dianggap layak untuk diongkosi naik haji. Standard yang ditetapkan bagi calon haji gratis ini memang sangat ketat.

Di kamera tampak seorang penguji, sebut saja Rini. Dia cantik, dewasa, anggun, lengkap dengan jilbab dan kerendahan hatinya. Di depan ustad, calon talent dia datang pukul 11.30 WIB. ”Ustad, saya ada masalah dengan perkawinan, suami saya…” bla bla dan seterusnya dia bercerita sangat meyakinkan.

Sang ustad merespons. Dia mulai mewejang, memberi nasihat. Hidden kamera menangkap seluruh adegan dengan jelas. ”Menyaksikan adegan itu, sebagai wanita saya tahu betul mimik wajah dan gerak mata seseorang lelaki yang bergairah. Bahkan adzan Salat Jumat pun diabaikan. Darahku naik. Kok begini sih? Ini orang terpandang di daerahnya yang direkomendasi banyak orang agar disertakan dalam program Naik Haji Gratis,” papar Faradhita.

Di video satunya, kata Fardhita, setali tiga uang. Malah talent yang katanya alim ulama itu memegang-megang pundak si Rini. “Gile nih… sama aja… dasar bandot semua. Aku mendadak sangat marah. Aku wanita, tahu banget niat laki-laki macam itu,” cerita Faradhita.

“Besok harus naik tayang jam empat sore belum dapat talent yang layak. Di mana Rini?” tanya Helmy saat bertemu Faradhita.

“Lagi ada talent, deket sini Pak. Lagi kita test. Live tuh di ruang belakang,” seorang staf menjawab.

Bergegas mereka melihat. Seluruh kru rumah produksi berharap cemas. Muka semuanya tegang. “Dia seorang guru Bahasa Indonesia, kalau sore mengajar ngaji anak-anak,” jelas staf Helmy.

Dalam monitor terlihat seorang bapak-bapak setengah baya sedang duduk, tampak kelelahan. Habis mengajar ngaji di masjid. Tak beberapa lama si Rini masuk. Dengan gayanya yang meyakinkan dia berkata, ”Pak, saya punya anak angkat usianya 8 tahun kelas 2 SD. Saya sudah tidak kuat merawatnya. Dia nakal banget, saya mau kasih bapak saja,” kata Rini sembari membetulkan jilbabnya sehingga seluruh lekuk tubuhnya sengaja dia tonjolkan.

Namun sang bapak membuang muka, menunduk sambil menjawab, “Aku terima. Segera bawa ke sini anak itu, aku rawat dia. Ini pasti kehendak Allah. Aku ikhlas,” katanya sambil menunduk.

“Boleh saya serahkan anak itu hari ini? Rumah kami jauh di Tujuh Ulu Pak,” kata Rini menambah bobot ceritanya. Sang bapak merogoh sakunya, lantas menyerahkan uang ribuan berlembar-lembar, kira-kira 15 lembar. ”Uangku hanya segini. Kamu ambil, naik angkot bawa anak itu kemari,” tutur Sang guru tadi santun.

“Ayo kita kesana, full kamera,” kata Helmy memecah ketegangan. Bergegas mereka berbondong-bondong menuju masjid. Setiba di lokasi kamera langsung keluar dari segala penjuru. Sang Bapak terkejut. Wajahnya bingung. Kemudian Helmy Yahya muncul dengan mengatakan, ”Alhamdulillah Bapak dapat hadiah naik haji gratis!!!”

Sang bapak terkejut bukan main. Wajahnya tergetar, giginya gemerutuk… tak bisa berkata-kata. Dia bersujud di sajadah berkali-kali. Selang beberapa menit ratusan pendukduk datang, warga kampung sekitar tersebut tanpa komando mengumandangkan, “Labaik allauhumma labaik…”

Siapa dia? ”Dia Pak Rahmat, guru Bahasa Indonesia di SD sini. Setiap bulan dia memberikan setengah gajinya untuk membeli permen agar anak-anak di sini mau mengaji. Sudah 25 tahun ini dia lakukan, saya adalah satu murid mengajinya di awal-awal dulu,” jawab seorang ibu-ibu. Kebenaran memang harus diuji. []

lowongan pekerjaan
PT. ATALIAN GLOBAL SERVICE, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
”Akad” Populer karena Berbeda

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu (14/10/2017). Esai ini karya Romensy Augustino, mahasiswa Jurusan Etnomusikologi Fakultas Seni Pertunjukan Institut Seni Indonesia (ISI) Solo. Alamat e-mail penulis adalah romensyetno@yahoo.com. Solopos.com, SOLO – -Youtube adalah salah satu media sosial yang menjadi rujukan…