Senin, 29 November 2010 14:27 WIB News Share :

Akibat erupsi Merapi, 60.000 bibit melon rusak

Jogja–Sebanyak 60.000 batang bibit melon siap ditanam milik petani di Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, mengalami kerusakan akibat terkena dampak letusan Gunung Merapi.

“Sebanyak 60.000 batang bibit melon yang siap ditanam mengalami kerusakan parah karena terkena dampak letusan Merapi, beberapa waktu lalu. Bibit tanaman melon sebanyak itu berada dalam wadah sebanyak 600 pack, dimana setiap pack berisi 100 bibit, yang harganya Rp55.000 per bibit,” kata Ketua Asosiasi Melon Pundong II,Desa Tridadi, Kabupaten Sleman, Sarjono di Yogyakarta, Senin (29/11).

Ia mengatakan 600 pack bibit melon yang siap ditanam itu rusak parah dan mengering karena terkena abu vulkanik Merapi. “Sekitar 60.000 batang bibit melon tersebut tersebar di lahan pembibitan seluas 20 hektare,” katanya.

Menurut dia, antara 1.600 hingga 1.700 tanaman melon di Sleman juga rusak parah. Tanaman tersebut tersebar di wilayah Turi dan Pundong.

“Pasokan melon ke pasar sempat terkendala karena minimnya produksi buah ini dari para kelompok petani. Meski di antara kami ada sebagian kecil tanaman melonnya tidak rusak parah, namun kami belum mampu memenuhi seluruh permintaan dari para pelanggan,” jelasnya.

Sarjono mengatakan sebelum Gunung Merapi meletus, produksi melon setiap minggunya rata-rata dua ton, dan penanaman maupun masa panen buah ini tidak mengenal musim.

“Melon ini disetor ke sejumlah supermarket dan Pasar Induk Buah di Gamping, Sleman, serta agen-agen penjual buah,” paparnya.

Menurut Sarjono, dalam satu semester dirinya mampu memproduksi melon rata-rata 100 ton. “Kami masih menghitung kerugian seluruhnya, dan kini sedang berupaya melakukan penanaman kembali,” katanya.

Namun, kata dia, kalau kerugian akibat kerusakan bibit melon, telah dihitung sekitar Rp 330 juta, sedangkan kerugian lainnya belum terhitung berapa totalnya. Harga melon di tingkat petani saat ini antara Rp 4.800 hingga Rp 5.000 per kilogram.

ant/rif

lowongan pekerjaan
Harian Umum SOLOPOS, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
”Akad” Populer karena Berbeda

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu (14/10/2017). Esai ini karya Romensy Augustino, mahasiswa Jurusan Etnomusikologi Fakultas Seni Pertunjukan Institut Seni Indonesia (ISI) Solo. Alamat e-mail penulis adalah romensyetno@yahoo.com. Solopos.com, SOLO – -Youtube adalah salah satu media sosial yang menjadi rujukan…