Senin, 29 November 2010 22:41 WIB Solo Share :

50% PNS di Solo masih “berpenyakit”

Solo (Espos)--Sekitar 50 persen pegawai negeri sipil (PNS) dari 10.500-an PNS di Kota Solo masih berpenyakit dalam menjalankan profesinya. Tiga penyakit yang mayoritas diidap para PNS tersebut adalah “Kudis”, “Kurap” dan “TBC”.

Hal itu dikemukakan Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Solo Budi Suharto saat dimintai tanggapan tentang refleksi kinerja para PNS di lingkungan Pemkot Solo kaitannya dengan momentum peringatan HUT ke-39 Korp Pegawai Republik Indonesia (Korpri).

“Hampir 50 persen PNS di Kota Solo ini mengidap penyakit “Kudis”, alias kurang disiplin, terutama dalam hal disiplin waktu,” tegas Sekda kepada wartawan seusai memimpin upacara peringatan HUT ke-39 Korpri di Stadion R Maladi, Senin (29/11).

Sekda mencontohkan kurang disiplinnya PNS salah satunya dalam hal mematuhi jam kerja. “Contohnya untuk mengikuti upacara ini saja masih molor datangnya,” terangnya.

Contoh lain kurang disiplinnya PNS, lanjut Sekda, terlihat dari masih kurang proporsionalnya penyerapan APBD. Tahun 2010 ini, katanya lagi, hingga bulan November penyerapan APBD masih berada di angka 70 persen.

“Harus diakui hal ini merupakan salah satu cerminan kinerja PNS yang kurang disiplin sehingga banyak program yang pelaksanaannya terpaksa molor. Biasanya baru pada akhir-akhir tahun semua program terlihat berjalan,” imbuh dia.

Dengan kinerja yang semacam itu, Sekda menyebutkan muncul penyakit PNS lainnya, yaitu “Kurap” yang artinya kurang rapi. Sementara penyakit lainnya, yaitu “TBC”, yang artinya tidak bisa “computer”.

“Kalau sudah mendekati <I>deadline<I> seperti ini, semuanya dilakukan dengan mengejar target sehingga terburu-buru dan hasilnya, seringkali kurang rapi. Apalagi hingga saat ini masih banyak yang belum menguasai program-program komputer dengan baik. Dan hal itu terjadi di hampir semua SKPD (satuan kerja perangkat daerah-red).

Sehingga hal ini harus menjadi evaluasi bagi kami,” tegasnya.
Sekda menyatakan kinerja PNS yang semacam itu tidak dipungkiri merupakan peninggalan dari rekrutmen pegawai pada 20-30 tahun yang lalu. Sehingga hal itu disikapi Pemkot dengan meningkatkan standar potensi bagi PNS melalui seleksi CPNS saat ini.

“Sehingga rekrutmen CPNS saat ini ditargetkan bisa lebih baik daripada dulu. Sebisa mungkin kami utamakan skill-nya. Sehingga untuk 20 tahun ke depan bisa menghasilkan SDM yang lebih baik,” tandasnya.

Sementara itu, dalam kesempatan upacara peringatan HUT ke-39 Korpri Senin kemarin, diserahkan penghargaan Satya Lencana Karya Satya (SLKS) kepada 200 PNS di lingkungan Pemkot Solo. Penghargaan yang menandakan masa pengabdian selama 20 tahun itu diserahkan oleh Wakil Walikota (Wawali) Solo, FX Hadi Rudyatmo.

sry

lowongan pekerjaan
CV. HORISON, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Masyarakat Tertutup Era Keterbukaan

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (9/10/2017). Esai ini karya Ichwan Prasetyo, jurnalis Solopos. Alamat e-mail penulis adalah ichwan.prasetyo@solopos.co.id. Solopos.com, SOLO–Masyarakat tertutup mempertahankan keberadaannya melalui ketaatan mutlak kepada perintah yang diyakini benar, terlepas dari apakah kebenaran itu sudah diuji…