Minggu, 28 November 2010 07:05 WIB Klaten Share :

"Wisatawan bencana", tak bawa bantuan tapi sekadar melihat-lihat

Oleh: Moh Khodiq Duhri

Wisatawan bencana. Belakangan, istilah itu demikian familier seiring mulai membaiknya aktivitas Gunung Merapi.

Istilah itu merupakan sebutan bagi kalangan warga yang sengaja datang ke lokasi bencana dengan tujuan melihat pemandangan menakjubkan pascaerupsi Merapi.

Ada gula ada semut. Kondisi permukiman yang luluh lantah akibat terjangan wedhus gembel atau awan panas Gunung Merapi tampaknya menjadi magnet tersendiri bagi warga.

Keberadaan “desa mati” itu ternyata membuat warga penasaran untuk mendatangi lokasi. Wisatawan bencana ini datang dari berbagai daerah di luar kawasan rawan bencana (KRB).

Aryo Sukirno, 35, salah seorang dari mereka mengaku sengaja datang ke Desa Balerante, Kecamatan Kemalang, Klaten, karena penasaran akan dahsyatnya dampak letusan Gunung Merapi.

Warga Desa Belangwetan, Klaten Utara itu mengaku sengaja datang hanya untuk melihat-lihat kondisi permukiman di Balerante.

“Terus terang saya penasaran dengan pemberitaan di media sehingga saya ingin melihatnya sendiri,” aku Aryo saat ditemui Espos di Balerante, Sabtu (27/11).

Akan tetapi, Aryo harus mengurungkan niatnya tatkala para personel baret merah menghadangnya sebelum sampai di lokasi yang dimaksud.

Para personel TNI itu hanya mengizinkan warga setempat yang untuk menengok kondisi rumahnya yang telah luluh lantah.

Dengan menunjukkan kartu tanda penduduk (KTP), bisa diketahui siapa warga setempat dan “wisatawan bencana”. Aryo yang diketahui bukan warga setempat pun mengaku kecewa akibat tidak diizinkan memasuki Balerante.

“Saya sudah jauh-jauh datang kemari hanya untuk menengok kondisi di atas (Balerante-red), akan tetapi mereka melarangnya,” keluh Aryo.

Hal senada juga dikemukakan, Marimin, 37, salah seorang warga Prambanan, Klaten yang sengaja datang ke Balerante untuk sekadar melihat-lihat.

“Saya tidak membawa bantuan tetapi hanya ingin tahu saja bagaimana kondisi di atas,” papar Marimin.

Aryo dan Marimin merupakan bagian dari “wisatawan bencana” yang belakangan terdengar begitu populer. Para “wisatawan bencana” ini seolah tidak peduli dengan nuansa keprihatinan yang hingga kini masih menghinggapi benak korban bencana.

Ironis, dengan menggunakan kamera, sebagian besar dari mereka mengabadikan keberadaan mereka di tengah kesibukan warga sekitar mencari barang-barang yang barangkali masih bisa dimanfaatkan.

Mungkin bagi “wisatawan bencana” ini, letusan dahsyat Gunung Merapi itu merupakan momentum menarik dan langka karena hanya terjadi sekali dalam 140-an tahun.

Mereka seolah tidak peduli dengan ancaman muntahan isi perut bumi yang bisa datang kapan saja mengingat status Gunung Merapi masih Awas.

“Hal ini berbahaya bagi mereka (wisatawan bencana-red). Terlalu berisiko sehingga penjagaan menuju KRB tetap dilakukan,” papar Komandan Pasukan Marinir (Pasmar I) TNI AL Surabaya, Letkol Andi A di lokasi.

lowongan pekerjaan
PT BACH MULTI GLOBAL, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Eropa pun Galau Ihwal Media Sosial

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (16/10/2017). Esai ini karya Ahmad Djauhar, Ketua Dewan Redaksi Harian Solopos dan Wakil Ketua Dewan Pers. Alamat e-mail penulis adalah djauhar@bisnis.com. Solopos.com, SOLO — Kegalauan ihwal media sosial kini melanda hampir seluruh negara di…