Minggu, 28 November 2010 21:44 WIB Boyolali Share :

Enggak enak, air di rumah seperti kopi susu

Suasana sepi masih nampak di salah satu dukuh di Desa Gedangan, yaitu Dukuh Markan. Meski pintu beberapa rumah tampak terbuka, tak ada satu pun orang di dalam rumah. Berulang kali Espos memanggil, tak ada sahutan dari dalam rumah. Sepertinya, mereka mulai beraktivitas di ladang. Atau tengah membersihkan barang-barang yang terkena abu vulkanik, seperti tikar.

Kemungkinan mereka mencuci tikar di belakang rumah atau ke kali. Terbukti, hampir di setiap depan rumah milik warga dijereng tikar. Tak terkecuali rumah milik warga Markan, RT 19/IV, Ngatini, 55.

Saat Espos menyambangi rumahnya, dia baru saja pulang dari mencuci tikar miliknya di Tlatar. Dia terpaksa mencuci hingga Tlatar karena air di kamar mandi keruh. Air di dalam bak miliknya mengalir meski kecil. Kondisi itu lebih baik ketimbang sejak tiga hingga empat hari lalu. Tak setetes air pun mengalir.

Meski air mengalir, warna air serupa susu cokelat. Ngatini mengatakan air di bak terasa sepet. “Airnya mengalir kecil. Tetapi warnanya cokelat susu. Seperti kalau saya bikin kopi susu untuk suami itu. Air itu tak layak minum. Kalau dipakai sikat gigi, rasanya sepet. Kalau dipakai keramas, rambut ini rasanya kaku,” tukasnya saat ditemui Espos di rumahnya, Minggu (28/11).

Meski air tak layak digunakan, dia dan warga lain tak dapat menolak. Air yang mengandung pasir dan abu vulkanik itu tetap digunakan untuk mencuci, mandi, memberi makan dan minum sapi dan lainnya, kecuali makan dan memasak.

“Kami harus ngangsu hingga Dukuh Banjarejo maupun dukuh lain yang masih memiliki air bersih. Kami pun tak dapat mengambil banyak-banyak karena air itu milik satu dukuh itu. Kami mengambil di bak-bak penampungan yang disediakan di pinggir jalan. Air di bak itu sering digunakan untuk mencuci tangan, kaki maupun alat lain milik petani sepulang dari ladang,” ujar Kaur Keuangan Desa Gedangan, Triyono saat ditemui Espos sepulang dari ladang.

Selain mengambil air dari bak penampungan di dukuh sebelah, warga juga menadah air hujan. Mereka selalu meletakkan ember di halaman rumah bila hujan turun. Tetapi, bila hujan tak kunjung turun dan persediaan air milik dukuh lain tak lagi memadai, mereka terpaksa membeli. Mereka membeli satu tanki seharga Rp 200.000 bahkan lebih. “Saat ini, hanya solusi itu yang dapat kami lakukan. Jadi, kami berharap akan ada donatur yang mau membantu. Air bersih jadi terasa mahal di sini,” imbuhnya.

Ternyata, mengonsumsi air hujan pun bukan solusi bagus. Saat Espos mencicipi air hujan yang dimasak dan diseduh dengan teh, ada rasa aneh. Setelah minum teh itu, lidah terasa kasar dan menjadi tebal. Ada rasa sepet juga. Mungkin karena tak terbiasa minum air hujan.

m88

lowongan pekerjaan
CV. HORISON, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
”Akad” Populer karena Berbeda

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu (14/10/2017). Esai ini karya Romensy Augustino, mahasiswa Jurusan Etnomusikologi Fakultas Seni Pertunjukan Institut Seni Indonesia (ISI) Solo. Alamat e-mail penulis adalah romensyetno@yahoo.com. Solopos.com, SOLO – -Youtube adalah salah satu media sosial yang menjadi rujukan…