Sabtu, 27 November 2010 02:06 WIB Boyolali Share :

Warga 5 dukuh di Gedangan kesulitan air bersih

Boyollai (Espos)–Warga lima dukuh yang termasuk dalam kadus IV, Desa Gedangan, Cepogo kesulitan air bersih. Hal itu disinyalir pipa yang mengalirkan air bersih dari Desa Wonodoyo rusak diterjang banjir lahar pasca erupsi Merapi.

Lima dukuh itu Dukuh Blambangan, Markan, Sidorejo, Jayan dan Sidopekso. Sebanyak 299 KK tinggal di Kadus IV. Menurut Kadus IV Desa Gedangan, Sumadi, sebelum Merapi meletus, air bersih masih mengalir. Bahkan, pasca erupsi Merapi, air pun masih mengalir. Tetapi, setelah hujan yang mengakibatkan banjir lahar dingin di Kali Gandul itu, air berhenti mengalir.

“Setidaknya, selama tiga hari, kami tidak mendapat aliran air bersih dari umbul Wonobedut, Wonodoyo, Cepogo. Entah karena apa. Tetapi, kemungkinan pipa yang mengalirkan air ke Kadus IV rusak diterjang banjir lahar beberapa waktu lalu. Itu karena pipa-pipa dipasang di pinggir sungai,” ujarnya saat ditemui Espos di kantor Kepala Desa Gedangan, Jumat (26/11).

Oleh karena itu, warga pilih menyiapkan ember untuk menadah air hujan. Selanjutnya, air hujan itu dimasukkan ke bak penampungan untuk mengantisipasi bila pipa tak kunjung bisa diperbaiki. “Kami masih beruntung karena saat ini musim hujan. Sehingga, kami masih dapat memanfaatkan air hujan. Tetapi, warga yang mampu memilih membeli air. Harga satu tanki air bersih, Rp 170.000. Tetapi, sekarang ini harga naik menjadi Rp 200.000.”

Sementara itu, menurut Sekretaris Desa Gedangan, Waljuni, hanya warga Kadus IV saja yang terkendala air bersih. Sedangkan warga di Kadus I-III tidak terkendala karena mereka memanfaatkan air dari Sungai Sini. “Tetapi, bila terkena banjir, pipa di sekitar Sungai Sini akan rusak terbawa arus air. Walhasil kami pun harus ngangsu (mencari air menggunakan ember dan lainnya-red). Tetapi, sejauh ini aman-aman saja,” tukasnya saat ditemui Espos di kantor kepala desa Jumat.

Dia pun mengungkapkan akan memperbaiki pipa yang dibangun atas swadaya masyarakat itu. Tetapi, mereka harus melihat situasi dan kondisi. “Saat ini kami tidak dapat berbuat apa-apa karena kami tidak berani naik. Di sana masih awas. Kami pun belum mendapat laporan berapa pipa yang rusak. Lokasi pipa itu ada di lereng gunung Bibi. Jadi, untuk sementara belum bisa diperbaiki. Kami menunggu suasana Merapi aman dan ada dana untuk membangun. Kami belum memiliki dana karena usai mengungsi,” pungkas Waljuni.

m88

lowongan pekerjaan
Penerbit Ziyad Visi Media, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Mencari Alamat Bahasa Indonesia

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu (06/01/2018). Esai ini karya Na’imatur Rofiqoh, ”pemukul” huruf dan juru gambar yang tinggal di Solo. Alamat e-mail penulis adalah naimaturr@gmail.com. Solopos.com, SOLO — Bahasa Indonesia tidak lagi beralamat di Indonesia. Indonesia malah jadi tempat…