Jumat, 26 November 2010 20:20 WIB News Share :

Pariwisata Sleman rugi Rp 1,4 muiliar/bulan

Jogja–Kerugian  sektor pariwisata di Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, akibat erupsi Gunung Merapi diperkirakan mencapai Rp1,4 miliar per bulan.

“Kerugian sektor pariwisata tersebut dihitung dari kerusakan fasilitas serta hilangnya potensi pendapatan dari tiga wilayah  kecamatan di Kabupaten Sleman yang merupakan kawasan wisata, yaitu  Turi, Pakem dan Kecamatan Pakem,” kata Kepala Bidang Pengembangan Pariwisata Dinas Kebudayaa dan Pariwisata Kabupaten Sleman Shavitri Nurmala Dewi, di Yogyakarta, Jumat.

Menurut dia, objek wisata di tiga wilayah kecamatan yaitu Turi memiliki kebun agrowisata salak pondoh, di Pakem ada objek wisata Kaliurang, dan desa wisata yang rusak.

Begitu pula dengan di Kecamatan Cangkringan ada beberapa desa wisata yang rusak berat akibat awan panas Gunung Merapi,” katanya.

Ia mengatakan di kawasan objek wisata Kaliurang yang rusak parah adalah hutan Taman Nasional Gunung Merapi (TNGM) yang mencapai 75-80 persen.

Selain itu, usaha wisata di antaranya museum Ullen Sentalu, dan kawasan  Telogo Putri.

Di Kaliurang ada sekitar 234 pondok wisata, sepuluh hotel berbintang, serta 120 warung dan restoran yang otomatis tidak menghasilkan akibat erupsi Merapi.

Sedangkan di Kepuharjo ada sejumlah desa wisata yang memiliki sekitar 60 pondok wisata yang dikelola warga desa setempat.

“Diperkirakan memerlukan waktu minimal enam  bulan untuk mengidentifikasi dan membuat langkah ke depan untuk menghidupkan kembali sektor pariwisata di kawasan lereng Gununung Merapi,” katanya.

Menurut dia, pemulihan pariwisata di kawasan lereng Merapi di antaranya harus melihat kemungkinan yaitu areal objek wisata di kawasan atas tidak rusak dan tidak bertentangan dengan kebijakan aparat kemananan mengenai zona bahaya Merapi.

“Sedangkan realisasi pemulihan pariwisata di kaki Merapi melalui tahapan yaitu status Merapi dinyatakan turun dulu, aktivitas aman untuk wisatawan, dan kawasan bisa dibenahi,” katanya.
Ia mengatakan pihaknya perlu melakukan identifikasi kembali daerah-daerah yang layak untuk kawasan wisata.

Selain itu, pihaknya juga tidak serta merta menjadikan daerah yang terkena erupsi Merapi untuk objek wisata.

“Kami harus menimbang rasa dari warga setempat yang desanya  hancur oleh erupsi Merapi. Jika nanti tetap menjadikan kawasan tersebut menjadi objek wisata, harus seizin warga setempat, sekaligus pengelolaannya bekerja sama dengan mereka,” kata Shavitri.

Ant/tya

lowongan pekerjaan
KISEL, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Wacana Lama Densus Antikorupsi

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat (20/10/2017. Esai ini karya Hafid Zakariya, Ketua Program Studi Ilmu Hukum di Universita Islam Batik (Uniba) Solo. Alamat e-mail penulis adalah hafidzakariya@gmail.com. Solopos.com, SOLO — Rencana pembentukan Detasemen Khusus Antikorupsi yang digulirkan kembali oleh…

Terpopuler