Jumat, 26 November 2010 15:25 WIB Wonogiri Share :

Bupati Danar
'Jamasan Pusaka' tetap diadakan...

Wonogiri (Espos)–Bupati Wonogiri H Danar Rahmanto menegaskan ‘Kirab dan Jamasan Pusaka’ maupun acara tradisi budaya lainnya akan tetap diadakan pada bulan Sura/Muharam ini. Namun, beberapa bagian ritual dalam acara itu yang dinilai berbau syirik diminta untuk dihilangkan.

Tak hanya itu, meski mengizinkan, Danar menegaskan Pemkab tetap tidak akan memfasilitasinya sebagai bagian dari agenda resmi, tidak akan memberikan dukungan penuh, baik dari sisi anggaran maupun keterlibatan personel seperti sebelumnya. Acara jamasan itu juga diminta agar dikemas ulang dengan menghilangkan hal-hal yang dinilai berbau syirik seperti membakar kemenyan, memakai wangi-wangian atau ritual tertentu.

“Tolong jangan salah mengartikan, Pemkab tidak pernah melarang digelarnya acara seperti ‘Jamasan Pusaka’, ‘Larung Agung’ dan sebagainya. Kalau memang masyarakat masih menginginkan itu sebagai tradisi ya silakan tetap digelar. Tapi Pemkab tidak akan terlibat secara penuh,” tegas Danar, saat ditemui wartawan di depan kantornya, Jumat (26/11).

Pemkab, kata Danar, akan tetap memberi bantuan dana dalam APBD, jadi satu dalam pos promosi pariwisata di Dinas Kebudayaan Pariwisata Pemuda dan Olahraga (Disbudparpora). Sedangkan penggunaannya, apakah untuk ‘Jamasan Pusaka’, ‘Larung Agung’ dan sebagainya, pembagiannya akan diserahkan ke dinas terkait.

Diakui Danar, acara-acara seperti ‘Jamasan Pusaka’ dan ‘Larung Agung’, tetap perlu untuk melestarikan peninggalan budaya nenek moyang. Tapi ada beberapa hal dalam pengertian masyarakat mengenai acara itu yang perlu diluruskan.

“Saya tidak menentang acara jamasan itu, wong saya sendiri juga punya koleksi keris yang rajin saya jamasi. Tapi, pengertian jamasan pusaka itu perlu diluruskan. Masyarakat perlu diberi pengertian bahwa menjamasi itu berarti membersihkan dan merawat agar tidak mudah rusak. Bukan karena kalau tidak dijamasi nanti penunggunya marah, atau pusaka itu dijamasi agar lebih ampuh. Pengertian seperti itulah yang perlu diluruskan,” jelas Danar.

Sebagaimana diinformasikan, wacana penghapusan acara tradisi ‘Jamasan Pusaka’ dari agenda Pemkab Wonogiri telah memicu pro dan kontra. Pihak yang pro menganggap acara itu mengajarkan kesyirikan dan memboroskan anggaran. Sedangkan pihak yang kontra, menginginkan acara itu tetap diadakan karena dinilai sudah menjadi ikon dan daya tarik wisata.

shs

lowongan pekerjaan
Carmesha Music School, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Masyarakat Tertutup Era Keterbukaan

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (9/10/2017). Esai ini karya Ichwan Prasetyo, jurnalis Solopos. Alamat e-mail penulis adalah ichwan.prasetyo@solopos.co.id. Solopos.com, SOLO–Masyarakat tertutup mempertahankan keberadaannya melalui ketaatan mutlak kepada perintah yang diyakini benar, terlepas dari apakah kebenaran itu sudah diuji…