Jumat, 26 November 2010 21:20 WIB News Share :

Barak pengungsian Candi Binangun kekurangan logistik dapur

Sleman–Barak pengungsian bencana letusan Gunung Merapi di Balai Desa Candibinangun, Kecamatan Pakem, Kabupaten Sleman, yang mulai dipakai kembali sejak Minggu (21/11) saat ini kekurangan peralatan dapur.

“Jika dulu sebelum radius zona rawan ditingkatkan menjadi 20 kilometer kebutuhan untuk logistik dapur umum sangat mencukupi,” kata Relawan di Posko Candibinangun Aditya Rizki, Jumat.

Menurut dia, setelah jarak aman ditingkatkan dan pengungsian di pusatkan di Stadion Maguwoharjo dan barak Candibingun dikosongkan.

“Saat ini setelah jarak zona aman kembali ke 15 kilometer dan pengungsi di kembalikan ke barak Candibinangun, muncul permasalahan karena logistik dapur umum sangat kekurangan,” katanya.

Ia mengatakan, bantuan dari donatur sudah jarang sampai di barak pengungsi Candi Binangun sehingga kalau butuh logistik harus meminta ke Posko Stadion Maguwoharjo, sehingga jika ada donatur agar mengirimkan langsung ke posko Candibinangun.

“Saat ini logistik masih banyak yang kurang terutama keperluan untuk dapur umum khusunya bahan bakar dan lauk pauk,” katanya.

Aditya mengatakan, dalam satu hari paling tidak dapur umum harus menyediakan lebih dari 5.000 porsi untuk makan tiga kali yakni untuk pengungsi yang berjumlah 1.435 jiwa belum lagi relawan serta TNI Polri yang berjaga.

“Satu hari membutuhkan bahan bakar minyak tanah sekitar 100 liter untuk dapur umum, kemudian untuk bahan makanan dibutuhkan sayur mayur dan lauk pauk karena dari kemarin menu makan telur setiap hari, kalau ada yang lain agar bisa memberikan variasi makanan kepada pengungsi,” katanya.

Ia mengatakan, pengungsi yang berada di Candibinangun berasal dari warga sekitar dan dari Desa Hargobinangun yang rumahnya masuk radius rawan 15 kilometer dari puncak Merapi.

“Pada siang barak pengungsi memanag tampak sepi karena sebagian besar pengungsi memilih pulang ke rumah dan kembali ke pengungsian menjelang gelap,” katanya.

Ant

lowongan pekerjaan
Gramedia Surakarta, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Perempuan Melawan Pelecehan Seksual

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Selasa (16/01/2018). Esai ini karya Evy Sofia, alumnus Magister Sains Psikologi Universitas Muhammadiyah Surakarta. Alamat e-mail penulis adalah evysofia2008@gmail.com.  Solopos.com, SOLO—Empathy is seeing with the eyes of another, listening with the ears of another,…