Kamis, 25 November 2010 12:30 WIB Ekonomi Share :

Aktivitas pasar tradisional di lereng Merapi belum pulih

Jogja–Sejumlah pasar tradisional di kawasan lereng selatan Merapi di Sleman mulai menggeliat. Namun aktivitas perdagangan di pasar-pasar tradisional belum sepenuhnya pulih.

Meski sudah ada aktivitas ekonomi, para pedagang belum banyak yang membuka kios dagangannya. Para pembeli yang sebagian besar warga sekitar juga belum banyak. Sebab, pedagang maupun pembeli masih banyak yang tinggal di pengungsian.

Berdasarkan pantauan, Kamis (25/11), pasar tradisional yang telah buka di antaranya pasar Desa Bimomartani Ngemplak, Pasar Pakem, Pasar Kejambon Sindumartani dan Pasar Butuh Glagaharjo Cangkringan.

Sebagian besar para pedagang mulai membuka kembali usahanya sejak dipersempit zona aman Merapi 15 km.

Di pasar Kejambon misalnya, para pedagang terutama sayuran dan sembako lebih banyak menggelar dagangannya di halaman depan pasar. Sedang kios-kios di dalam pasar belum banyak yang buka.  Meski pasar itu selalu ramai tiap hari, namun aktivitas hanya berlangsung mulai pukul 06.00 – 11.00 WIB.

Hal serupa juga terjadi di pasar Butuh Glagaharjo yang terletak berbatasan antara Cangkringan Sleman dengan Kepurun Manisrenggo Klaten. Letak pasar ini sekitar 11 km dari puncak dan berada di jalan batas provinsi menuju arah Dusun Srunen dan Balarente. Di antaranya kios pasar yang ada di sisi barat dan timur terbelah jalan sebagai batas Provinsi DI Yogyakarta dengan Jawa Tengah.

Pasar ini dulu selalu ramai dikunjungi warga Desa Glagaharjo, Balerante maupun Manisrenggo Klaten. Namun setelah erupsi besar 5 November lalu aktivitas pasar sempat mati. Kembalinya para pengungsi memicu pulihnya aktivitas di pasar tradisional.

“Seminggu terakhir ini sudah banyak pedagang yang buka dan warga sekitar yang rumahnya aman juga sudah banyak yang pulang,” kata Mulyono salah satu pedagang sembako di Pasar Butuh.

Menurut dia, sejak hari Senin 22 November para pedagang kelontong dan pemilik kios sudah mulai membersihkan barang dagangannya dari debu vulkanik Merapi. Satu demi satu para pedagang mulai membuka kiosnya. Pedagang sembako, sayuran yang berasal dari luar desa juga sudah menggelar dagangan di los-los pinggir pasar. Sedang yang belum nampak adalah petugas retribusi pasar yang setiap hari berkeliling ke kios-kios dan los pasar.

Dia pun kemudian menunjukkan banyaknya warga dari dusun-dusun di bagian atas seperti Balerante, Panggang, Bendosari, Banjarsari, Kepurun, Jetis Sumur, Gading, Ngancar yang berbelanja berbagai kebutuhan di pasar.

Warga yang berbelanja sebagian besar adalah warga yang rumahnya aman tidak terkena awan panas Merapi.

“Hari ini sudah lumayan ramai tapi tidak seramai seperti saat sebelum Merapi meletus. Masih banyak warga Glagaharjo yang tinggal di pengungsian karena rumahnya rusak,” kata Mulyono.

dtc/rif

lowongan pekerjaan
NSC FINANCE KARTASURA, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Ketika Uang Tunai Terpinggirkan

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (16/10/2017). Esai ini karya Riwi Sumantyo, dosen di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sebelas Maret. Alamat e-mail penulis adalah riwi_s@yahoo.com. Solopos.com, SOLO — Perkembangan teknologi digital yang super cepat mengubah banyak hal, baik di…