Rabu, 24 November 2010 08:50 WIB Sragen Share :

Warga tiga dukuh kekurangan air

Sragen  (Espos)–Warga di dua dukuh di Desa Pendem, Sumberlawang yang berada terpisah dari kantor desa setempat, lantaran terhalang luapan Waduk Kedung Ombo (WKO), diusulkan menerima program Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat (Pamsimas) tahun 2011.

Sedikitnya 130 kepala keluarga (KK) di dua dukuh tersebut, yakni Dukuh Tawangsari dan Dukuh Grasak, saat ini menggantungkan kebutuhan air bersih pada sumur gali.

Meski berada persis di tepi WKO, untuk mendapatkan air bersih, warga di lokasi tersebut harus menggali sumur minimal 16 meter karena lokasinya tinggi. Selain di dua dukuh itu, satu dukuh lain, Dukuh Watu Kepluk, juga mengalami kondisi serupa.

Namun, untuk dukuh ini pihak desa urung mengusulkan bantuan, karena lokasinya terpencil dan hanya dihuni sedikit orang.

Kepala Desa (Kades) Pendem, Saidi Rosit, saat dijumpai Espos, di kantor desa setempat, Selasa (23/11), menjelaskan masyarakat di dua dukuh tersebut menggantungkan kebutuhan air pada sumur gali dan sendang yang terletak di dekat kawasan permukiman.

Namun, pada musim kemarau, sejumlah sumur mengering. Untuk itu, usulan program Pamsimas diharapkan dapat meringankan beban masyarakat untuk mendapatkan air bersih.

“Di Tawangsari dan Grasak, air bersih sulit kalau musim kemarau. Banyak sumur yang kering, warga harus antre dan mencari air hingga jarak 1 km. Sedangkan, di Watu Kepluk, memang tidak kami usulkan Pamsimas, sebab lokasinya terpencil dan hanya dihuni 27 KK. Sehingga kalau dihitung penghuninya tidak sebanding dengan biaya,” urai Saidi.

Usulan Pamsimas di Dukuh Tawangsari dan Grasak, menurut Saidi telah mendapat lampu hijau dari Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Sragen. Berdasarkan hasil pertemuan yang digelar Sabtu (22/11) di kantor Bappeda, Saidi menjelaskan Desa Pendem rencananya akan dibantu program Pamsimas.

Pihaknya akan menerima bantuan dari APBN senilai Rp 192,5 juta dan APBD sebesar Rp 27,5 juta. Di luar itu, pihak desa harus mengupayakan dana tambahan berupa uang tunai Rp 11 juta dan bantuan material serta tenaga swadaya yang jika diuangkan bernilai Rp 44 juta.

“Jadi total dana Rp 250 juta. Pusat membantu 70% dan anggaran daerah 10%,” imbuhnya.

Sementara itu, Bayan setempat, Darmanto menyatakan warga memang sangat membutuhkan sumber air bersih yang mudah diakses. Selama ini, saat musim kemarau tiba, warga selalu kesulitan mendapatkan air.

Bahkan, bagi warga yang membutuhkan air dalam jumlah besar, seperti warga yang punya kerja, terpaksa membeli air. Kondisi itu diharapkan tidak lagi ada jika warga memiliki sumber air bersih sendiri melalui program Pamsimas.

“Yang punya hajat sering harus beli air. Harganya memang bisa dinego, tapi hal itu tetap menyusahkan masyarakat. Warga kami sangat berharap ada air bersih itu,” tegas Darmanto.

tsa

lowongan pekerjaan
PD.BPR BANK BOYOLALI, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Wacana Lama Densus Antikorupsi

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat (20/10/2017. Esai ini karya Hafid Zakariya, Ketua Program Studi Ilmu Hukum di Universita Islam Batik (Uniba) Solo. Alamat e-mail penulis adalah hafidzakariya@gmail.com. Solopos.com, SOLO — Rencana pembentukan Detasemen Khusus Antikorupsi yang digulirkan kembali oleh…