Rabu, 24 November 2010 17:42 WIB Boyolali Share :

Warga Sruni dapat pengobatan gratis

Boyolali (Espos)--Sebagian besar warga Desa Sruni diserang ISPA dan tekanan darah tinggi. Penyakit itu paling banyak diderita oleh lansia.

Setidaknya, sebanyak 30 persen dari 100 orang yang datang untuk berobat di Balai Desa Sruni, Rabu (24/11) menderita penyakit Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA). Setelah penyakit itu, penyakit hipertensi atau tekanan darah tinggi mengancam warga.

Tetapi, menurut salah seorang dokter dari PMI Cabang Kabupaten Klaten, Dr Wiwik Purwanti kondisi itu wajar. Apalagi mereka pulang dari mengungsi. “Penyakit-penyakit itu wajar dialami warga sepulang mengungsi akibat letusan gunung Merapi. Setelah warga kena debu.

Selain itu karena mereka masih dicekam rasa takut dan khawatir,” tukasnya saat ditemui Espos setelah memeriksa pasien dalam program pengobatan gratis yang diselenggarakan kerja sama PMI Cabang Kabupaten Klaten dan Jamsostek.

Salah seorang warga Dukuh Watesari, RT 2/III, Sruni, Musuk, Sukiyem, 60, mengaku senang mendapat pengobatan gratis. Dia pun berharap akan ada program serupa secara berkala. “Saya senang mendapat pengobatan gratis seperti ini. Karena saya selalu merasa pusing. Terutama setelah pulang mengungsi. Semoga program semacam ini dapat diadakan lagi,” tukasnya.

Sementara itu Kepala Desa Sruni, Taryana menjelaskan sempat kewalahan mengumumkan pada warga terkait program tersebut. “Saya mengumumkan melalui masjid atau mushola yang ada di setiap dukuh. Program seperti ini bagus. Setidaknya, setiap pekan sekali sudah cukup membantu warga. Apalagi setelah ada bencana gunung Merapi meletus ini. Karena warga yang ada di Desa Sruni wilayah Barat, seperti Dukuh Dares, Tambaksari, Banjarsari dan lainnya harus berjalan sejauh tiga kilometer hingga Puskesmas. Hal ini karena polindes yang akan dibangun di Dukuh Magersari belum terealisasi karena terkendala bencana. Kemungkinan, awal Januari baru dapat terealisasi,” ujarnya.

m88

lowongan pekerjaan
KLINIK BERSALIN UTAMA RB. DR. JOHAN, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Mengenang (Pendidikan) Guru

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat (24/11/2017). Esai ini karya Bandung Mawardi, kuncen Bilik Literasi. Alamat e-mail penulis adalah bandungmawardi@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Pada akhir abad XIX orang-orang Jawa mulai memiliki cita-cita baru. Sekian orang ingin menjadi guru seperti tuan kulit…