Rabu, 24 November 2010 14:55 WIB News Share :

Tiga dusun di Magelang rawan disapu banjir lahar dingin susulan

Magelang--Sebanyak tiga dusun di Desa Mangunsuko, Kecamatan Dukun, Magelang, yang berada di radius 10 kilometer dari puncak Merapi, rawan disapu oleh banjir lahar dingin susulan di dam Senowo, Kecamatan Dukun.

Sebab enam dam yang berada di lima desa kawasan Merapi sudah jebol dan rusak akibat diterjang oleh banjir lahar dingin.

Di tiga dusun itu terdapat ribuan warga yang terdiri dari Dusun Mbendo (114 warga), Dusun Mangunsuko (1.200 warga) dan Dusun Dukoh (1.500 warga).
Sementara keenam dam yang berada di sepanjang hulu Kali Senowo itu adalah dam Mangunsuko, dam Mbendo, dam Kajangkoso, dam Semen dan dam Krinjing.

Bahkan, selain sudah memasuki areal ladang dan persawahan, material banjir lahar dingin yang terakhir juga masuk ke pemukiman rumah bagian belakang milik Rudy Setiawan, 38, warga Dusun Mbendo, Desa Mangunsuko, Kecamatan Dukun.

“Saya terus terang sangat khawatir rumah saya bagian belakang sudah dihantam material banjir lahar dingin. Takut kalau banjir lahar dingin susulan nanti terjadi, maka saya minta pemerintah segera melakukan pengerukan di hulu Kali Senowo,” tegas Rudy.

Rudy menyatakan, sebelum terjadi banjir lahar dingin, rumahnya berada 15 meter di atas dam Kali Senowo.

Tetapi saat ini sudah rata dengan pondasi rumahnya sehingga mau tidak mau harus dilakukan pengerukan agar tidak menyebar ke seluruh bagian pemukiman warga.

Wijoyo, 44, warga Dusun Mendo, Desa Mangunsuko, Kecamatan Dukun menuturkan aliran Kali Senowo yang ada di lereng Merapi pasca erupsi sudah membelah menjadi dua hulu. Pertama hulu berukuran kecil dan yang kedua hulu asli atau hulu besar.

“Saat ini hanya hulu kecil yang mengalir. Kalau jembatan yang asli dan besar sampai saat ini belum mengalirkan arus dan material karena tersumbat material yang menumpuk di aliran asli Kali Senowo,” tegas Wijoyo.

Kepala Dusun Mbendo, Sudiono,48, menyatakan yang mendesak saat ini adalah kebutuhan warga untuk mendapatkan alat penerangan berupa ‘lampu sokle’ yang berguna untuk memantau datangnya banjir lahar dingin.

“Kalau malam selain suara gemuruh saja yang terdengar kami kesulitan memantau arus banjir yang datang dengan tiba-tiba. Makanya saya minta tolong pemerintah segera memberikan bantuan lampu sokle untuk menerangi alur Kali Senowo itu,” tegas Sudiono.

Sudiono berharap, selain secara cepat memberikan bantuan penerangan pemerintah juga harus melakukan pengerukan di seluruh hilir Kali Senowo.  Sebab bahaya banjir lahar dingin mengancam persawahan dan pemukiman penduduk.

Informasi yang dilansir detikcom, selain di Kali Senowo, sebanyak enam sungai yang berhulu di Gunung Merapi banjir lahar besar. Kelima sungai tersebut adalah Sungai Putih, Krasak, Lamat, Pabelan, Batang dan Blongkeng.

Di Sungai Putih banjir lahar justru semakin besar. Aliran lahar bahkan nyaris meluber ke jalan Gulon-Trayem, tepatnya di Dusun Salakan, Desa Sirahan. Lahar datang dengan membawa batu-batu besar dan pohon-pohon besar yang hanyut dari atas gunung.

Saat banjir mereda, timbunan material vulkanik di pinggir sungai sampai ketinggian antara 1-2 meter. Banjir ini juga sempat menimbun jembatan Seloboro dan Jembatan Candi. Kedua jembatan tersebut tertimbun pasir dan pagar jembatan hilang.

“Banjir mulai datang sekitar pukul lima. Tadi sempat masuk ke rumah penduduk di Dusun Berokan. Ini banjir yang sangat besar,” terang Sarjiman, warga Dusun Tular, Desa Seloboro, Kecamatan Salam.

Uniknya, pada saat banjir terjadi belasan truk Plat H sudah mengantre di pinggir sungai. Mereka menunggu beberapa penambang yang nekat beraktivitas. Beberapa penduduk sempat memperingatkan penambang namun tidak digubris.

Di Dusun Mantingan, banjir lahar dari Kali Batang semakin luas menggenangi areal persawahan. Saat ini sawah yang terendam pasir mencapai sekitar 12 hektar.

“Banjir ini lebih besar dari Minggu lalu. Badan sungai sudah tidak sanggup menampung lahar lagi,” jelas Asngari, warga Dusun Duwet.

Kepala Dusun Tangkil, Desa Ngargomulyo, Kecamatan Dukun, Yatin meminta warganya untuk mewaspadai kemungkinan banjir lahar dingin melalui sejumlah sungai di desa setempat. Hal ini karena wilayah Desa Ngargomulyo berada di antara alur Kali Lamat dengan Blongkeng.

“Masyarakat harus menjauhi alur sungai hingga radius 300 meter,” tegas Yatin.

dtc/nad

lowongan pekerjaan
KISEL, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Wacana Lama Densus Antikorupsi

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat (20/10/2017. Esai ini karya Hafid Zakariya, Ketua Program Studi Ilmu Hukum di Universita Islam Batik (Uniba) Solo. Alamat e-mail penulis adalah hafidzakariya@gmail.com. Solopos.com, SOLO — Rencana pembentukan Detasemen Khusus Antikorupsi yang digulirkan kembali oleh…