Rabu, 24 November 2010 13:01 WIB Issue Share :

Kezia unjuk gigi di Japan Music Week 2010

Jakarta–Band Kezia baru saja merampungkan tur kecilnya di Jepang. Mereka pun sempat unjuk gigi di Japan Music Week 2010.

Seperti rilis yang dilansir detikcom, Kezia melakukan tur kecilnya di Tokyo, Jepang pada 8-16 November lalu. Sebelumnya, mereka juga menyambangi Singapura untuk bermain pada Singapore Street Festival 2010.

Perjalanan band yang beranggotakan Martin (drum, programmer), Noel (bass,recorder/suling,angklung), Niko (gitar,penyanyi, sapeg-gitar tradisional suku Dayak dan suling/recorder) dan Ade (vokal) itu tidak mudah.

Berbagai kendala mereka alami saat menuju Jepang seperti pengurusan visa, sampai anggota keluarga salah satu personel yang meninggal. Namun hal tersebut tidak menyurutkan tekad Kezia untuk unjuk gigi di Negeri Sakura.

Tanggal 9 November adalah hari pertama Kezia unjuk gigi di Jepang, tepatnya di Tokyo Tower dalam rangkaian acara Japan Music Week 2010 yaitu Asian Music Festival.

Karena Niko dan Ade belum bisa tiba karena kepengurusan visa yang belum selesai, akhirnya Kezia bermain akustik yang diwakili oleh Martin dan Noel.

Dalam penampilannya itu, Kezia membawakan lagu dengan nuansa pedesaan ciri khas Indonesia, namun tetap dibalut secara modern. Mereka memang mempunyai misi untuk memperkenalkan musik tradisional Indonesia di kancah International.

Lagu berjudul ‘Adriano Stevenson’ yang bernafaskan suling batak dan ritmis gitar pop, mereka bawakan dengan syahdu sehingga membuat telinga para pendengar, terutama penonton wanita terbuai.

Lagu lainnya, ‘Hear Me Now’ yang bernuansa Britpop disuguhkan dengan sentuhan suara angklung yang merupakan khas dari Jawa Barat.

Bagi Anda yang belum pernah mendengar lagu-lagu Kezia, mereka adalah band etno-alternative rock yang berasal dari Bogor. Musik yang diusung adalah penggabungan antara etnik (musik tradisional), techno dan alternative rock.

dtc/nad

lowongan pekrajaan
Yayasan Internusa Surakarta, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Mengenang (Pendidikan) Guru

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat (24/11/2017). Esai ini karya Bandung Mawardi, kuncen Bilik Literasi. Alamat e-mail penulis adalah bandungmawardi@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Pada akhir abad XIX orang-orang Jawa mulai memiliki cita-cita baru. Sekian orang ingin menjadi guru seperti tuan kulit…