Rabu, 24 November 2010 22:35 WIB Boyolali Share :

Banjir lahar dingin landa lereng Merapi, Tlogolele terancam terisolasi

Boyolali (Espos)--Desa Tlogolele, Kecamatan Selo terancam terisolasi menyusul banjir lahar dingin yang terjadi di Kali Apu, Selasa (23/11) sore, yang mengakibatkan adanya empat batu besar yang menutupi jembatan di dam Kali Apu yang menjadi satu-satunya akses warga melintas dari Desa Klakah, Selo ke Desa Tlogolele.

Dari pantauan Espos, Rabu (24/11), empat batu besar berdiameter lebih dari tiga meter itu menutup jembatan penghubung yang berada di atas sabo dam atau penahan lahar dingin dari puncak Merapi. Awalnya, hanya satu batu besar menutup jembatan. Namun demikian, beberapa warga yang mengendarai motor nekat melintas di samping jembatan yang sudah penuh material pasir dengan arus air yang cukup deras.

Salah seorang warga Dukuh Karang, Desa Tlogolele, Sutras menuturkan dirinya hanya berani melintas di jembatan Kali Apu itu saat pagi hingga siang hari.
“Kalau sudah sore atau malam hari saya tidak berani melintas, karena arus air sangat deras. Selain itu, banjir lahar dingin juga mulai terjadi di Kali Apu yang diawali dengan gemuruh dari puncak,” ujarnya kepada wartawan, Rabu.

Sutras mengatakan dirinya terpaksa berjalan kaki dari rumahnya ke Desa Klakah yang berjarak lebih dari tiga kilometer ke Desa Klakah. Dirinya harus mengurus hewan ternaknya yang dititipkan ke saudaranya di Klakah. Sementara dirinya tiap sore mengungsi di Sawangan, Magelang.

“Saat melintas pun saya terkadang juga harus mengamati arus air yang ada. Jika memang deras, lebih baik saya tidak melintas Kali Apu,” tandas dia.

Namun, dengan tertutupnya jembatan di Kali Apu itu, jelas Sutras, membuat jarak perjalanan dari Desa Klakah hingga Desa Tlogolele bertambah. Pasalnya, harus memutar melewati Kabupaten Magelang yang menempuh perjalanan sekitar satu jam dari Selo.
“Kalau tertutup ya harus lewat Magelang,” tandas dia.

Senada, seorang warga Tlogolele Taryono mengaku tertutupnya jembatan oleh batu besar dari puncak Merapi itu mengakibatkan dropping distribusi bantuan logistik bagi warga juga terhambat. Pasalnya hanya motor yang bisa melintas. Sementara, kendaraan roda empat atau lebih tidak bisa melintas.

“Bisa terhambat, karena sudah tertutup empat batu besar di tengah jembatan,” papar dia.
Dengan adanya batu besar di tengah jembatan itu membuat jajaran Polres Boyolali memperketat akses bagi warga yang akan melintas. Polres menempatkan sejumlah personel untuk berjaga di sekitar Kali Apu. Selain itu, petugas juga memasang rambu-rambu peringatan terkait kondisi Merapi yang mulai banjir lahar dingin di sejumlah aliran kali yang berhulu di puncak Merapi.

Terhenti

Akibat banjir lahar dingin itu juga membuat proyek pembangunan sabo dam Pabelan 5 di Desa Tlogolele juga terhenti. Pasalnya, proyek yang sedianya akan selesai Desember 2010 mendatang diperkirakan molor. Pasalnya, sabo dam yang sudah dikerjakan lebih dari 75 persen itu ada beberapa bagian yang rusak akibat diterjang lahar dingin dan tertutup material batu.

Namun proyek pembangunan sabo dam itu juga telah terhenti sejak 24 Oktober lalu atau sehari setelah penetapan Merapi menjadi awas. Padahal, sabo dam yang membentang lebih dari 100 meter dengan kedalaman lebih dari 20 meter itu juga sebagai jembatan penghubung bagi warga di Desa Tlogolele, Selo dengan Desa Wonolelo, Kecamatan Sawangan, Kabupaten Magelang.

Salah seorang karyawan proyek Miftah mengatakan dengan kerusakan akibat lahar dingin itu membuat proyek terhenti. Pasalnya, ada batu besar yang berada di tengah jembatan dan beberapa batu besar yang menutup saluran air di sabo dam itu sendiri.

“Butuh waktu untuk menyingkirkan batu besar itu. Namun kapan diselesaikan proyek sabo dam itu juga belum diketahui,” ujarnya kepada wartawan, Rabu. Miftah mengatakan dua alat berat saat ini masih berada di lokasi proyek.


fid

lowongan pekerjaan
marketing, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Masyarakat Tertutup Era Keterbukaan

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (9/10/2017). Esai ini karya Ichwan Prasetyo, jurnalis Solopos. Alamat e-mail penulis adalah ichwan.prasetyo@solopos.co.id. Solopos.com, SOLO–Masyarakat tertutup mempertahankan keberadaannya melalui ketaatan mutlak kepada perintah yang diyakini benar, terlepas dari apakah kebenaran itu sudah diuji…