Rabu, 24 November 2010 01:44 WIB Boyolali Share :

19 LSM di Boyolali bentuk forum pengurangan risiko bencana

Boyolali (Espos)--Sebanyak 19 lembaga swadaya masyarakat (LSM) membentuk aliansi forum pengurangan risiko bencana Boyolali. Forum tersebut dibentuk untuk membantu pemerintah guna meminimalkan dampak bencana yang dialami masyarakat, khususnya korban bencana alam.

LSM tersebut antara lain PCNU Boyolali, PMI, Maarif Institute dan Jaringan Informasi Lingkar (Jalin) Merapi.

“Kami bersatu untuk aktif menguragi risiko bencana. Kesepakatan itu dibentuk setelah ada bencana Merapi,” ujar juru bicara forum Sarbini kepada wartawan di Boyolali, Selasa (23/11).

Sarbini menambahkan dengan adanya penyusunan rencana aksi daerah pengurangan risiko bencana, stakeholder dan penggiat pengurangan risiko bencana intensif melakukan komunikasi dan koordinasi.
“Letusan Merapi berakibat massif baik dalam jumlah pengungsi maupun berbagai persoalan yang terjadi,” papar dia.

Forum pengurangan risiko bencana, tambah Sarbini, bersifat terbuka bagi seluruh elemen, baik pemerintah maupun swasta.

“Melalui forum itu diharapkan semua hal dan tindakan terkait penanganan bencana Merapi maupun bencana lainnya bisa dikomunikasikan dan dikoordinasikan sehingga tidak saling tumpang tindih dalam pengelolaan bencana,” tandas dia.

Menurut Sarbini, setiap elemen masyarakat dapat bertindak sesuai dengan kemampuannya masing- masing. Seperti yang dia lakukan bersama Maarif Institute yang juga bergabung dalam Forum pengurangan risiko bencana. Dengan latar belakang organisasi berbasis pengembangan pendidikan maka pihaknya akan aktif dalam menangani pendidikan anak korban bencana Merapi. Selain itu juga berusaha menghilangkan trauma pada diri anak- anak di kawasan lereng Merapi.

”Ini sangat penting agar anak- anak korban bencana Merapi dapat segera pulih dan bersekolah kembali secara aktif. Meskipun para pengungsi sudah pulang, persoalan belum selesai. Justru bakal muncul berbagai persoalan baru untuk menyiapkan masyarakat korban bencana bisa hidup normal kembali seperti semula.”


fid

Lowongan Pekerjaan
QUALITY CONTROL, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Mengenang (Pendidikan) Guru

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat (24/11/2017). Esai ini karya Bandung Mawardi, kuncen Bilik Literasi. Alamat e-mail penulis adalah bandungmawardi@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Pada akhir abad XIX orang-orang Jawa mulai memiliki cita-cita baru. Sekian orang ingin menjadi guru seperti tuan kulit…