Selasa, 23 November 2010 09:05 WIB Internasional Share :

Korban tragedi Festival Air di Kamboja capai 345 jiwa

Phnom Penh–Jumlah korban tewas akibat kericuhan di acara festival air di jembatan Phnom Penh terus bertambah. Data terakhir, 345 orang meregang nyawa, sementara 329 lainnya luka-luka.

Stasiun televisi pemerintah melansir, dari total korban tewas, 240 di antaranya adalah wanita.

“Semua orang membawa korban sanak saudaranya, termasuk wanita dan anak-anak,” ucap Vann Thon, salah seorang saksi mata. “Semua orang terlihat takut,” lanjutnya kepada Reuters, Selasa (23/11).

Saksi lainnya, Huon Khla mengatakan, kepanikan mulai terjadi saat jembatan yang digunakan untuk menyaksikan festival tersebut diisukan goyah. Warga yang ketakutan berebutan lari ke luar jembatan sehingga ada yang terinjak, bahkan tercebur ke sungai.

“Saya terjebak dalam waktu yang lama. Dan itu sangat panas, saya pun kehilangan kesadaran,” ceritanya.

PM Kamboja Hun Sen meminta maaf pada rakyatnya atas kejadian ini. Dia memerintahkan investigasi segera tentang penyebab peristiwa yang merenggut korban jiwa terbesar setelah rezin Pol Pot ini.

“Ini adalah tragedi terbesar sejak 31 tahun lalu, setelah rezim Pol Pot,” ujarnya.

Peristiwa mengenaskan ini terjadi di jembatan yang menghubungkan kota Phnom Penh dengan sebuah pulau. Saat itu, jutaan orang memadati jembatan untuk menyaksikan final acara festival air yang digelar tiap tahun.

Festival tersebut digelar tiga hari. Warga Kamboja berantusias untuk menyaksikan festival sebagai tanda berakhirnya musim hujan. Selain itu, ada juga adu balap kapal tradisional yang digelar di sungai Tonle Sap.

dtc/nad

lowongan pekerjaan
KLINIK BERSALIN UTAMA RB. DR. JOHAN, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Mengenang (Pendidikan) Guru

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat (24/11/2017). Esai ini karya Bandung Mawardi, kuncen Bilik Literasi. Alamat e-mail penulis adalah bandungmawardi@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Pada akhir abad XIX orang-orang Jawa mulai memiliki cita-cita baru. Sekian orang ingin menjadi guru seperti tuan kulit…